Dua Dekade Perjalanan Sisca Guzheng Bermain Alat Musik “Tak Biasa”

Transisi era 90-an menuju 2000-an identik dengan musik rock dan pop Inggris (british pop) atau alternatif. Pemuda pada era tersebut berbondong-bondong membentuk grup musik dengan menyajikan lagu-lagu alternatif.

Jauh dari ingar-bingar tersebut, Fransisca Agustin memilih jalan lain. Wanita kelahiran 17 Agustus 1982 ini melirik kecapi Cina sebagai instrumen yang dipelajarinya.

Pada 2003, wanita yang akrab disapa Sisca ini mulai menekuni Guzheng (Kecapi Cina) yang kemudian membawanya tampil mendapat job pentas. Beberapa panggung mulai dijajakinya, walau tak jauh dari pesta pernikahan etnis Tionghoa yang memerlukan sajian musik dengan alat yang khas.

“Saya pemusik yang realistis. Musik dan alat yang saya tekuni agaknya sulit punya pasar. Saya rasa di sinilah tempat saya berkarya dan juga hidup dari musik (industri musik pernikahan),” ujar Sisca.

Petualangan bermusik Sisca pun dimulai sejak ia mengenal musik harpa. Sejauh ini ia sudah memiliki 4 prototipe harpa, yakni harpa Toraja, Mega Mendung (Cirebon) Kawung (Mataram), dan Dewi Sri (Dewi Kesuburan di Jawa dan Bali) yang dilukis motif tumpal oleh Anton Susanto, yang merupakan perupa dari Galeri Seni Popo Iskandar.

Foto: Sisca Guzheng.

Moniker Sisca Guzheng Harp

Medio 2006, ia mulai merambah alat musik harpa. Faktor yang menyebabkannya pindah haluan dari alat musik guzheng ke harpa adalah tuntutan untuk dirinya agar bisa menjalankan bisnis musiknya.

Uniknya, proses belajar itu berawal saat ia merasa posisinya sebagai pemain guzheng tak terlalu diperlukan dalam industri hiburan.

“Jadi, uang tabungan selama tiga tahun main guzheng itu saya putarkan untuk beli harpa. Terus saya belajar, dan mulai dapet garapan (job) dari harpa itu dua tahun setelah saya belajar. Unik sih kalau nginget fase pertama belajar. Tapi, ya dari saya belajar itu, terbuka lah garapan-garapan musik,” ujar Sisca.

Ia juga memaparkan, jika hendak belajar alat musik harpa, idealnya menguasai terlebih dahulu alat musik piano. Hal ini dimaksudkan agar tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengulik alat musik harpa ini.

Selain itu, Sisca menilai disiplin dan latihan teknik menjadi bagian penting dalam mempelajari alat musik ini, khususnya harpa. Hal itulah yang tak ia dapatkan saat belajar harpa, karena ia mempelajari alat musik ini secara otodidak.

Kolaborasi

Dalam perjalanannya bermusik, ia pernah berkolaborasi dengan beberapa musikus kenamaan, sebut saja gitaris Dewa Budjana. Sisca tercatat berkolaborasi dengan Dewa Budjana pada launching buku Gitar pada 2012, Sanur Jazz Festival 2012, Performance Art Market 2013 di Goethe-Institut, dan Ubud Jazz Festival 2015.

Ia juga mengenang proses pertemuannya dengan maestro gitar Indonesia tersebut sebelum akhirnya berkolaborasi. Hal itu bermula saat keduanya sama-sama menjadi musisi tamu sebuah konser di Bandung medio 2012. Setelah itu, keduanya berkenalan dan bertukar nomor kontak.

“Di backstage tukeran nomor, dan enggak lama dari situ dapet SMS, diajak kolaborasi untuk beberapa acara gitu. Wah, kaget juga saya!” kenangnya sembari tertawa.

Selain itu, ia juga pernah nampil di gelaran Ubud Jazz Festival bersama Dwiki Dharmawan dan Kamal Mussalam, Samba Sunda pada gelaran Konferensi Asia Afrika ke-60 pada 2015 dan acara Jazz Gunung pada 2016.

Belum lama ini, Sisca baru saja pulang dari Melbourne Australia usai nampil sebagai pemusik di acara Festival Asia TOPA. Ia menceritakan keseruannya saat mentas di Negeri Kanguru tersebut. Dalam pertunjukan yang dimainkannya, ia mengisi musik untuk pertunjukan teater yang menceritakan tentang kehidupan zaman Yunani Kuno.

Foto: Sisca Guzheng.

Panggung

Pencapaian yang membuatnya merasa bangga dalam perjalanan sebagai musikus adalah saat dirinya berhasil menggelar konser prototipe Harpa Nusantara pada 30 September 2019 silam.

Konser itu dihelat di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Sisca mengaku senang karena dalam konser itu, ia seperti memiliki ‘portfolio’ bermusik sendiri. Kendati demikian, ia merasa banyak evaluasi, tantangan dan pekerjaan rumah untuk karirnya ke depan.

Salah satunya, ia sedang berupaya agar bisa tampil sebagai one woman show, alias tanpa pengiring. Hal ini bertujuan untuk mencapai efektivitas waktu, mengingat perlunya berbagai proses dari mulai workshop, hingga gladi bersih yang dianggap memakan waktu, jika ia melibatkan banyak pengiring.

“Konser itu bisa dibilang sukses banget. Cuma, buat saya pribadi sih koreksinya, ya saya mesti eksplorasi dan lebih banyak ngulik lagi supaya bisa main sendiri gitu,” katanya,

Selain nampil di beberapa acara festival, ia hanya fokus pada bisnis musiknya sebagai pemain harpa dan guzheng untuk acara pernikahan atau gathering. Ia memainkan harpa sebagai musik pengiring untuk acara-acara tersebut.

Ketika ditanya mengenai keinginannya mencipta sebuah karya, Sisca mengaku belum terpikir untuk merilis karya pribadi. Untuk hal tersebut, ia mengaku berkaca pada industri musik saat ini yang belum memungkinkan untuk seorang pemain harpa bisa nampil sebagai penampil.

Selain itu, proses dari menentukan materi, merekam, sampai promosi dianggapnya menjadi satu paket tahapan yang memakan waktu dan energi cukup besar, yang mana dirinya merasa belum siap untuk menjalaninya.

Mandiri

Menjadi pemusik dengan alat yang tak biasa memang terlihat unik secara visual. Namun pada kenyataannya, proses yang dilalui Sisca tak semudah kelihatannya.

Misalnya saat manggung, ia harus membawa sendiri peralatan harpa dan guzheng yang relatif besar-besar dan berat. Beruntung, ia mendapat dukungan yang luar biasa dari keluarga dan sang suami.

Dalam beberapa unggahan di Instagram, tampak Sisca menampilkan proses di balik layar ia manggung. Di mana satu unit mobil disulap bak rak peralatan. Di dalam mobil itu terdapat serangkaian peralatan dan kostum yang ‘njelimet’.

“Kalau manggung itu rariweuh bawa alat, bawa kostum. Emang tidak semudah yang dilihat di media sosial,” terangnya.

Meski begitu, ia tetap menikmati proses ini dan menganggap kemandirian sebagai proses dari perjalanan berkaryanya.

Konsisten Gelar Pertunjukan

Pandemi Covid-19 meredupkan ‘lahan bermusik’ Sisca yang cenderung realistis menjadikan panggung kawinan sebagai tempatnya berkiprah. Seluruh pesta kawinan skala besar mati suri, tetapi tidak dengan kreativitasnya.

Ia menggelar beberapa proyek pertunjukkan musik secara mandiri di rumahnya. Pada 2021, ia menggelar pertunjukkan ‘The Sounds of Stuff’ di garasi rumahnya.

Secara garis besar dalam tema musik ini, Sisca membawakan beberapa lagu dengan menjadikan stuff atau peralatan seperti alat tulis, makanan, hingga kain sebagai alat musiknya. Berbagai peralatan seperti pensil, kue basah, hingga jengkol disulapnya menjadi alat pemicu suara.

Namun, peralatan yang dimaksud tak semata-mata berarti alat-alat seperti pensil, kue basah, hingga jengkol yang nampak dimainkan oleh Sisca menghasilkan bunyi. lat-alat tersebut menjadi pemancing atau trigger untuk sampling yang sudah dibuat Sisca. Sampling tersebut terhubung ke sebuah perangkat keras yang menghasilkan bunyi lewat sentuhan pada alat pacu atau trigger-nya.

Kendati industri musik sempat diterpa pandemi, ia tetap optimistis dan senang melihat kondisi hari ini, yang mana mulai bermunculan musikus muda wanita yang aktif berkarya. Sisca berharap jumlah musikus wanita yang berkarya ini semakin masif lagi ke depannya.

Lebih jauh ke depan, Sisca berharap hadirnya perempuan dalam industri musik jangan hanya sebagai pemanis visual saja. Menurutnya, ada nilai lebih yang bisa disajikan oleh wanita, bukan sekadar tampilan fisik saja.

Ia mengaku khawatir dengan fenomena munculnya musikus wanita yang dianggap relatif elok dipandang namun tanpa dibarengi dengan kemampuan bermusik yang mumpuni.

“Saya sih berharapnya, penampilan musik wanita itu enggak hanya good looking aja, tapi juga dibarengi dengan kemampuan dia main. Misalnya dia pemain violin, jangan sampai kamu main violin itu kamu main hand-sync, kalau dia penyanyi, jangan sampai dia lip-sync. Harus dibarengin juga sama kemampuan dia main. Sekarang kan yang laku tuh yang kayak begitu ya. Tapi, ya, mungkin itu sih rejeki mereka aja mungkin,” ucap Sisca.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: