Drupadi tak henti menerima pelecehan terhadap dirinya, bahkan hingga belakangan ini. Lelaki-lelaki memperlakukan Drupadi tanpa hormat.
Perempuan dalam kisah Mahabharata itu jengah dengan segala tekanan yang ia terima dan mulai menentukan sikap.
Drupadi menggugat kekuasaan laki-laki yang mengobral kesewenang-wenangan, bahkan melawan seluruh tindakan dan keputusan yang telah ditetapkan oleh raja dan suaminya.
Gugatan dan perlawanan Drupadi itu ditampilkan dalam lakon bertajuk “Teater Monolog Drupadi,” Sabtu, 3 Juni 2023, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta.
Lakon ini ditulis seniman yang sekaligus menjadi sutradara pertunjukan, Putu Fajar Arcana.

Produser Joan Arcana mengatakan, Arcana Foundation yang ia dirikan sejak tahun 2011 tetap konsisten menangkap isu-isu aktual untuk kemudian dipresentasikan ke atas pentas.
Pementasan teater menjadi salah satu metode yang bisa dimanfaatkan untuk mengetuk kesadaran bersama, tentang betapa pentingnya menghargai dan menghormati perempuan.
Hingga saat ini, kata dia, peristiwa dan fakta para perempuan yang mengalami kekerasan seksual dan dilecehkan seolah terus menderas tanpa henti.
“Hukuman rupanya tak menjerakan para pelaku. Kekerasan seksual terhadap perempuan terus-menerus terjadi, di mana-mana. Ini memprihatinkan kami,” kata Joan, melalui siaran pers yang diterima mikrofon.id.
Pemberitaan dan kasus kekerasan dalam beberapa masa terakhir menunjukkan betapa menderitanya para perempuan di Bandung, Bekasi, Jakarta, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Ia merasa bahwa harus ada cara lain untuk memberdayakan perempuan dan menggugah kesadaran para lelaki. Namun, semua gugatan dan perjuangan itu tidaklah dalam kerangka saling mengalahkan. “Setidaknya perempuan diletakkan dalam posisi terhormat,” katanya.

Multimedia
Persiapan pementasan “Teater Monolog Drupadi” dilakukan selama hampir tiga bulan di Denpasar, Bali.
Sutradara Putu Fajar Arcana ingin menyajikan bentuk teater yang akrab dengan seluruh elemen penginderaan dalam diri manusia.
Secara visual, para penonton diajak bertualang menikmati keindahan lanskap yang disajikan teknologi multimedia.
Selain itu, secara auditif ia mengajak para penonton menyimak dan mendengar lagu, yang digubah oleh musisi dan aktris film Ayu Laksmi.

Putu Fajar Arcana sejak awal telah memilih Ayu Laksmi untuk menggubah lirik-lirik yang ia tulis untuk pementasan Drupadi. Menurut dia, nuansa musik yang digarap Ayu pas dengan suasana yang ingin ia bangun dalam pementasan Drupadi.
“Ayu itu berhasil memadukan musik dunia dengan materi kekayaan etnik yang kita miliki. Lakon ini juga berangkat dari kekayaan tradisi yang kita miliki, tetapi dipresentasikan dengan platform yang akrab dengan generasi di masa kini,” kata Putu, yang akbrab disapa Bli Can ini.

Teater monolog dipilih untuk menyederhanakan penyampaian curhatan yang diungkapkan Drupadi sepanjang pertunjukan. Monolog Drupadi diperkuat dengan eksplorasi tari yang digarap koreografer internasional Jasmine Okubo, serta musik oleh Kadapat.
Kadapat digawangi oleh Yogi dan Barga, dua anak muda Bali yang menguasai musik tradisi, tetapi mengeksplorasinya melalui teknologi musik digital.
Ayu Laksmi mengatakan, ia sungguh beruntung mendapatkan lirik yang kaya akan makna. “Indah sekali, saya jadi mudah menggubahnya menjadi nyanyian,” katanya.
Menurut pemeran Ibu dalam film Pengabdi Setan ini, menciptakan lagu yang diperuntukkan bagi sebuah pementasan agak berbeda dengan menyiapkan sebuah album.
Semua lirik yang diberikan penulis naskah, kata Ayu, merupakan satu rangkaian dengan
cerita.
“Jadi saya harus menangkap nuansa pentas, lalu mencari warna yang tepat agar menghasilkan lagu yang pas dengan bentuk pertunjukan,” ujar Ayu.

Sementara itu, Jasmine Okubo mengajak para penari sarat pengalaman dan prestasi dalam proyek pementasan Drupadi. Di antaranya ada penari muda bernama Thaly Kasih, yang pernah bermain dalam film “The Seen and Unseen,” garapan sutradara Kamila Andini.
“Dia berbakat sekali, karena itu layak diberi kesempatan mengembangkan bakatnya,” tutur koreografer berdarah Jepang kelahiran Turki itu.
Menurut Joan Arcana, pertunjukan ini bisa dihelat berkat dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta Indonesia Kaya.***