‘Dreams Come True’, Pameran Bersama Penghimpun Rindu

Sederet seniman alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan pameran bersama bertajuk ‘Dreams Come True’. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

MIKROFON.ID – Sederet seniman alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan pameran bersama bertajuk “Dreams Come True.” Pameran dilakukan di Galeri Seni Popo Iskandar, 20 Agustus hingga 4 September lalu.

Keterlibatan 53 seniman dalam pameran ini seakan menyeret rasa rindu selepas pasang-surut situasi pandemi sejak tahun lalu.

Mungkin beberapa dari mereka tak betul-betul hilang dan tak berkumpul. Ada yang sempat mengadakan pameran, atau setidaknya acara amal bantu kawan.

Akan tetapi, di antara seniman ini juga ikut merasakan dampak pandemi yang cukup dashyat, terutama kaitannya dengan ekonomi.

Namun, dari kumpulan perupa ini juga hadir serangkaian aksi saling bantu lewat donasi, yang mungkin tidak memenuhi kelayakan hidup, tetapi setidaknya membuat mereka bertahan.

Respons aktif para seniman saat pameran bersama ini digagas ke grup aplikasi percakapan sudah cukup membuktikan bahwa kini saatnya makin sehat dan bangkit.

“Pameran bertajuk  ‘Dreams Come True’ ini memiliki beberapa tujuan. Tidak hanya sekadar untuk memberi kesempatan teman-teman alumninya. Kang Dadang MA, Teh Yuyu, Teh Rina, Teh Dewi, Ang Anton Susanto, dan kawan-kawan juga mengadakan pameran insidental ini sebagai bentuk kerinduan  untuk berkarya dan pameran bersama,” ujar kurator pameran ini, Eddy Hermanto. 

Menafsir Entitas Karya Pupuhu

Meskipun insidental, karya yang dipamerkan digarap serius, dengan didominasi karya dua dimensional.

Eddy Hermanto menuturkan, berbagai tema digarap, dalam beragam perwujudan, dengan menggunakan kekuatan visual baik yang representatif maupun yang berwujud abstrak.

Secara naratif ataupun simbolik, mereka bertutur mengenai isu-isu sosial, lingkungan, hingga persoalan yang sangat personal dalam ungkapan estetik masing-masing yang mencerminkan spirit kekinian.

Pameran yang diselenggarakan “Pupuhu” para alumni seni rupa IKIP Bandung (sekarang UPI) diisi dari berbagai angkatan.

Para perupa telah sejak lama mengenal berbagai media untuk menganalisis lingkungan sekeliling mereka dan karya-karya seni serta pameran seni telah berkontribusi dalam memungkinkan terbentuknya ruang-ruang apresiasi bagi publik.

Padatnya pengalaman tentu tergambar lewat karya-karya yang dipamerkan seniman yang terlibat.

Menurut Eddy, hadirnya pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami, atau peristiwa yang telah dilalui dalam kurun waktu tertentu, dalam hal ini suatu pengalaman memiliki awal dan akhir namun dapat menciptakan suatu kesatuan yang utuh.

“Pengalaman sangat besar peranannya dalam membentuk karakter seorang perupa (seniman) dalam bersikap, bertindak maupun dalam menghasilkan sebuah karya seni.

Dalam hal ini ada pepatah bijak mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik ‘experience is the best teacher’,” tuturnya.

Dalam hal seni, asumsinya adalah semakin banyak pengalaman seni seseorang maka kualitas karya setidaknya akan memiliki kekuatan apalagi jika ditopang dengan wawasan intelektualnya.

“Tentu saja pengalaman dalam berproses membutuhkan waktu. Intinya seluruh perupa di manapun dapat dipastikan memiliki pengalaman dalam mewujudkan proses karya seninya masing-masing,” kata Eddy.

Ia menambahkan, pameran ini menampilkan karya yang berbasis representasi dengan tema karya heterogen. Di dalamnya memperlihatkan selain keterampilan teknik, juga kekuatan penggunaan skill secara kreatif sebagai idiom utama dalam karya-karyanya.

Peserta pameran adalah perupa yang terlihat secara konsisten berkarya dan perupa yang mulai mencoba lagi untuk konsisten. Mereka hadir dengan menggunakan idiom masing-masing sebagai representasi berbagai persoalan yang diangkat dalam karya-karyanya.

Keberadaan karya di pameran “Dreams Come True” menjadi pemicu atas eksplorasi yang lebih luas atas praktik seni saat pandemi, serta bagaimana kontribusinya kepada masyarakat.

Bagaimana seni telah berkelindan dengan pengalaman serta mencerminkan dinamika seni rupa yang dilandasi pesan estetika yang beragam.

“Kita harus secara aktif terlibat di dalam objeknya sendiri, bahkan sampai pada titik di mana kita hilang atau teralienasi di dalamnya. Mudah-mudahan karya-karya yang hadir ditampilkan dalam pameran bertajuk ‘Dreams Come True’ bisa kita tafsir, atau paling tidak bisa kita apresiasi meskipun kita memakai masker,” ucap Eddy.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: