Drawing Dede Wahyudin dan Simbol Kelamnya Dunia

Seniman Dede Wahyudin menggelar pameran tunggal bertajuk “Dunia” di Orbital Dago, 18 Januari-19 Februari 2023. Pameran ini menampilkan sudut pandang Dede mengenai dunia.

Karya yang dominan dengan sentuhan pensil gambar dengan warna hitam putih menghiasi ruang pamer. Lewat dominasi hitam putih itulah, Dede menyajikan dunia dalam sudut pandangnya.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Di mata Dede, “Dunia” berisi entitas unik dan aneh tapi sekaligus intim dan hangat, di mana manusia dan sekitarnya bisa begitu banyak rupa. Bisa seperti dalam dunia ganjil: lingkungan orang-orang gila, orang-orang di dalam sirkus, penuh dengan kepedihan dan kesakitan, kadang sedikit horor dan surreal.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Tetapi ada juga yang menggambarkan kehidupan sehari-hari orang-orang biasa: para petani di desa, para buruh, supir angkot, pegawai rendahan, atau orang-orang urban sekitar Dede tinggal.

“Sebagai seorang seniman dan sekaligus guru sekolah menengah, Dede selalu memberi perhatian kepada golongan lemah dan tersingkir,” tutur Rifky “Goro” Effendy, dalam catatan kuratorial Pameran “Dunia”.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Dari akhir tahun 1990-an, Dede Wahyudin memulai karya-karya dengan teknik drawing yang menggambarkan dunia yang aneh dengan tema-tema kritikal terhadap berbagai persoalan sosial dalam masyarakat sekitarnya.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Dengan watak yang unik, karya-karya Dede mengingatkan kepada cara penggambaran dunia aneh dalam lukisan-lukisan dan drawing dari abad awal Renaisans (abad 16) Eropa (Belanda) seperti lukisan Pieter Bruegel the Elder, yang diilhami berdasarkan situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu, sekaligus sebagai penafsiran alkitab.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Dengan kemampuan dasar menggambar hitam-putih, Dede membangun suatu gambaran dunia penuh simbol-simbol rumit, di mana ketidakadilan, kemiskinan, kekelaman, kegilaan dan kesusahan menjadi dorongan kuat untuk membicarakan persoalan suatu sisi kehidupan.

“Menjadi desakan kuat untuk menunjukan bahwa kesenian tidak harus melulu soal rasa keindahan apalagi kebagusan, tetapi menjadi suatu dunia estetik yang bisa menghadirkan komunikasi kepada para audiensnya,” ujar Rifky.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Karya-karyanya juga disebut menghadirkan suatu kebenaran diatas kebagusan atau keindahan yang menjadi salah satu jargon utama realisme S. Soedjojono.

Sebagai pengenalan pula, sejak kecil Dede sudah menyukai gambar, lalu melihat proses sang kakak kandung, Tisna Sanjaya ketika berkarya, menambah dorongan untuk meneruskan ke perguruan tinggi seni rupa.

Pameran tunggal “Dunia” Dede Wahyudin, di Orbital Dago Bandung, 18 Januari-19 Februari 2023. Foto: Rayhadi Shadiq/mikrofon.id.

Ia kemudian masuk jurusan seni rupa di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Ia mengakui dirinya kurang menyukai penerapan warna, maka ketika lulus ia memilih berkarya realis dengan drawing pensil daripada melukis.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: