Door to The River: Karya-Karya Foto Pembeda Kecerdasan Mesin

Bandung Photography Triennale menggelar pameran fotografi kontemporer dengan tema Door to The River, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Karya yang dipamerkan merupakan hasil dari workshop Pinhole Photograpy yang melibatkan beberapa praktisi dan seniman terpilih.

Mereka yang terlibat dalam pameran ini yakni Ahmad F. Rizky, Alfisa Fadlika, Anggoro Anwar, Annisa Rachimi Rizka, Ari Haryana, Audia Damayanti, lalu Chandra Mirtamiharja, dan

I Gede Ryandhana Putra. Selain itu, ada pula M. Naufal, Muhammad Fadli Fitriyan, Rachel Ulina, Rifky Yoga Prasetya, Septi Maulina, Willi, serta Yoshara Eltyar.

Selain kritik terhadap penggunaan medium fotografi yang mulai menitikberatkan pada wilayah eksploitasi ketimbang eksplorasi, isu yang disinggung dalam pameran ini juga memilih lokus sungai sebagai objek merupakan upaya membangun kesadaran tentang ruang interpretatif.

Sungai menjadi wilayah penting untuk kembali membentuk empati terhadap ekosistem melalui kesadaran fotografi yang eksploratif. Penggunaan kamera pinhole yang dibuat oleh tangan para seniman sendiri kemudian menciptakan piranti fotografi yang amat personal.

Anatomi teknologi yang sederhana memberikan upaya jeda terhadap percepatan teknologi yang semakin masif. Tereduksinya sebagian mesin yang membatasi logika dan akurasi dalam membidik citra, para seniman kemudian mengelaborasikan isu tersebut melalui ruang ide, imajinasi, dan intuisi yang secara personal mereka tumbuhkan selama proses kekaryaan.

Pameran seni fotografi Door to The River gelaran Bandung Photography Triennale, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Foto: Bandung Photography Triennale.

Door To The River

Kurator pameran Henrycus Napitsunargo mencatat, kemajuan teknologi pada perangkat fotografi secara tidak sadar semakin membuat berjarak dengan subyek di sekeliling kita. Tanpa disadari teknologi fotografi telah menghasut kita untuk mengeksploitasi bahkan mengintimidasi subyek yang ditemukan.

“Ada semacam kesan bahwa; alih-alih memilih untuk membangun relasi etis dengan dunia sekitarnya, yang terjadi malah lumpuhnya kepekaan atas segala dampaknya terhadap subyek dalam bidikan piranti fotografi. Hal ini menyebabkan praktik eksploitasi cenderung dominan dibanding eksplorasi,” kata Henrycus.

Sejak awal ditemukannya, ia melanjutkan, fotografi sudah menyandang label sebagai media “instan” yang secara konsisten penyematan tersebut dilanggengkan oleh industri hingga hari ini.

Situasi ini semakin menenggelamkan kesadaran penggunanya secara radikal. Logika beserta akurasi yang ditawarkan teknologi saat ini tak hanya menggerus indera dan intuisi manusia secara perlahan, namun juga berdampak pada kerusakan absolut.

Kondisi ini mengingatkan pada kali pertama Daguerre memperlihatkan citraan foto di atas tembaga berlapis perak yang serta merta dianggap sebagai praktik sihir.

“Memang sejak itulah kotak Pandora dibuka dan fotografi terus melanjutkan praktek ‘sihir’-nya dari dalam kuil-kuil Revolusi Industri hingga hari ini,” ujarnya.

Pameran seni fotografi Door to The River gelaran Bandung Photography Triennale, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Foto: Bandung Photography Triennale.

Dengan skema “instan,” percepatan dalam memroses banyak hal telah menjadi suatu tuntutan mutlak bagi sistem pendukung hidup manusia dalam berbagai aspek; mulai dari proses produksi, konsumsi, hingga kecerdasan pun dituntut untuk memenuhi percepatan yang semakin jauh dari nalar natur.

Akan tetapi, keniscayaan percepatan yang semakin tinggi selalu memiskinkan pengalaman dan kesadaran sebagai konsekuensinya, sekaligus membuka celah besar kerja magis industri untuk menghipnotis masyarakat serba instan saat ini.

Secara simultan kinerja manusia, mulai dari aktivitas fisik hingga pemikiran, diambil alih oleh mesin-mesin cerdas hasil ciptaan manusia itu sendiri karena dianggap lebih mumpuni dalam memenuhi percepatan dan akurasi. Ironisnya kita harus menelan konsekuensi tersebut.

Meski begitu, kondisi semacam ini bukanlah hal yang mustahil untuk sedikit demi sedikit diperbaiki. Setidaknya upaya-upaya kecil harus dilakukan untuk keluar dari zona nyaman yang ditawarkan sistem serba instan di hari ini.

Karya-karya dalam pameran ini sebenarnya adalah hasil dari lokakarya yang dilakukan oleh partisipan terseleksi selama kurang lebih 1 bulan. Bentukan yang disajikan para peserta lokakarya ini bukanlah sebuah proses yang sudah selesai, namun berupa sketsa visual yang kelak akan dilanjutkan.

Pameran seni fotografi Door to The River gelaran Bandung Photography Triennale, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Foto: Bandung Photography Triennale.

Pergeseran Teknik

Henrycus menuturkan, intensi dari lokakarya ini sebenarnya adalah sebuah proses eksperimen yang memaksa setiap partisipan untuk keluar dari zona nyaman fotografi yang menjauh dari keakuratan prediksi, komposisi, dan artikulasi visual.

Dengan menggunakan sebuah kamera lubang jarum sederhana yang dirakit sendiri dan tanpa jendela bidik, para seniman fotografi didorong untuk membangun relasi dengan subyek secara lebih intens tanpa intervensi teknologi fotografi hari ini.

Ada semacam pergeseran secara psikologis dalam prosesnya. Pada akhirnya nilai keinstanan yang direduksi oleh anatomi kamera lubang jarum kemudian menuntut intuisi dan imajinasi guna membangun kesadaran bahwa citra fotografis utuh hanya tersimpan pada memori otak kita.

“Citraan fotografi yang muncul dari kamera lubang jarum ini hanyalah sebuah abstraksi dari memori fotografis setiap individu. Selain penggunaan kamera lubang jarum sederhana, para partisipan juga dilibatkan dengan proses reaksi kimia pada pita plastik berlapis perak peka cahaya yang kemudian diproses untuk mendapatkan citraan fotografi melalui teknik dasar kamar gelap,” katanya.

Pameran seni fotografi Door to The River gelaran Bandung Photography Triennale, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Foto: Bandung Photography Triennale.

Pembeda Kecerdasan Mesin

Mengambil tajuk Door to The River sebagai tema program lokakarya dan pameran ini, selain menyangkut lokus yang menjadi subyek lokakarya (sungai Citarum dan sungai Cikapundung) juga sekaligus pada wilayah interpretatifnya.

Sungai yang selalu dikaitkan dengan sumber penghidupan, juga kerap kali digunakan sebagai penghubung dua dunia yang berbeda antara prediktif-nonprediktif, epemeral- eternal, profan-sakral, terbatas-tak terbatas, dan sebagainya. Intinya, terkadang untuk melihat sebuah kebenaran kecil sekalipun kita terpaksa membunuh beberapa hal terlebih dahulu.

Pameran seni fotografi Door to The River gelaran Bandung Photography Triennale, di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Bandung, 13-31 Mei 2023. Foto: Bandung Photography Triennale.

Dalam hal lokakarya ini setidaknya beberapa aspek memang harus “dieliminasi” terlebih dahulu untuk mendapatkan sebuah kesadaran apakah sebuah citraan fotografis itu penting atau tidak untuk dihadirkan ke dunia ini. Aspek instan, logika akurasi, dan kepastian prediksi menjadi hal yang harus dieliminasi terlebih dahulu.

Dengan demikian, intuisi, imajinasi, yang memunculkan tegangan sampai kejutan menjadi bagian dari proses sebagai upaya mengembalikan hakikat manusia sebagai pemilik “rasa” sebagai bilik pemisah dan pembeda dengan kecerdasan mesin.

“Akhirnya, program ini bukanlah sebuah aksi heroik perihal re-humanisasi, namun hanya sebuah eksperimen kecil bagaimana membangun kesadaran dampak dari sepak terjang citraan fotografi sebagai alat “sihir” yang masih ampuh hingga hari ini. Anggap saja eksperimen kecil bisa menjadi embrio lahirnya para alkemis baru di era kontemporer ini,” tutur Henrycus.***

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top