Disémberg: Serangan Hardcore Punk dari Padalarang!

Disémberg merupakan unit hardcore/punk dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Band yang digawangi oleh Qew (drum) dan Aba (vokal) ini baru saja mengeluarkan mini album pertamanya bertitel Singlar dalam format kaset dan digital Pada awal 2022 lalu. Untuk format kaset, Singlar resmi dirilis oleh Hawar Press pada 24 Maret 2022.

Mendengarkan lagu-lagu di mini album Singlar dari Disémberg, pendengar yang familiar dengan musik-musik seputaran hardcore/punk mungkin akan merasa ada sentuhan D-beat yang cukup kental.

Inisiator Disémberg, Qew, memang mengaku bahwa Disémberg banyak terinspirasi oleh musik-musik d-beat. Bahkan lebih spesifik lagi, ia mengatakan bahwa Hark! It’s a Crawling Tar-Tar, band hardcore/punk dengan sentuhan d-beat asal Bandung yang kini telah bubar, memberikan pengaruh yang tidak sedikit.

“Tanpa disengaja, mood lagu pertama yang kami buat berasa Hark! banget. Di sisi lain, kami memang sepakat bahwa Hark! memiliki energi yang kuat sejak awal kemunculannya (meneruskan Domestik Doktrin) hingga resmi bubar dan terpecah ke berbagai band lainnya pada hari ini,” ujar Qew, melalui surel pada November 2022.

Disémberg muncul sebagai bentuk pelarian dari rutinitas kerja harian Senin-Jumat yang membosankan dan kerap kali membuat stress. Setidaknya itu yang dirasakan Qew saat ditanya mengenai awal-awal pembentukan Disémberg pada 2020 lalu.

Qew kemudian berinisiatif mengajak temannya, Ayok, untuk bermain gitar dan Aba sebagai vokalis.

Saat itu, Qew masih mengisi posisi drum, belum bermain gitar seperti dalam formasi terbaru. Selain memainkan drum, Qew juga menulis lirik untuk materi-materi yang ada di mini album Singlar.

“Niat awalnya kami mau memainkan suara-suara semacam Succubus, agak post-punk nan gelap begitu, namun di menit-menit akhir sewa studio, kami malah membereskan satu bagan lagu bernafaskan hardcore/punk. Mengalir aja,” tuturnya.

Seiring waktu berjalan, Ayok tidak lagi bersama Disémberg. Qew kemudian berganti posisi menjadi gitaris. Dan sampai sekarang, mereka masih bertahan dalam format duo. Namun untuk live, mereka mengambil pemain cabutan.

“Untuk format live, posisi drum dibantu oleh Firdan, lalu pemain bass kami terakhir dibantu oleh Rifai dan Adam dari band Horrified,” ujarnya.

Mengenai arti nama Disémberg itu sendiri, sekilas melihat nama itu seakan terpengaruh oleh band-band yang berawalan ‘dis’, semacam Discharge, Disfear dan lain-lain. Namun, Qew sendiri mengaku bahwa Disémberg pada awalnya tak lebih sebuah plesetan dari bulan dimana band pertama kali terbentuk.

“Disémberg hanya plesetan nama dari bulan Desember. Alasannya hanya karena kami terkumpul dan terbentuk di bulan itu,” ujar Qew.

Disemberg Singlar Cover Bandcamp – by Hawar Press. Foto: Disemberg.

Lirik

Terdapat enam lagu dalam mini album perdana Disémberg ini. Di dalamnya termasuk bonus lagu, semacam live di Intertwined Showcase 2022 sepanjang 12 menit.

Untuk titel mini album sendiri, Singlar, pada dasarnya merupakan kata yang diambil dari Bahasa Sunda.

Qew menuturkan, kata Singlar diambil dari istilah sastra sunda, yakni ‘Rajah Panyinglar’. Rajah Panyinglar adalah salah satu bentuk rangkaian syair/mantra orang-orang sunda zaman dulu dengan maksud untuk mengusir marabahaya, misalnya hama di ladang perkebunan.

“Kami memilih itu untuk menyimpulkan pesan dan sikap di album kami dengan maksud dan tujuan serupa Rajah Panyinglar tadi,” katanya.

Pemilihan kata dalam setiap lirik Disémberg cukup menarik disimak. Terdapat sebentuk ungkapan kritik sosial di dalamnya, sebagaimana layaknya band hardcore/punk. Disémberg menuliskan berbagai tema-tema kritis seperti dampak budaya digital terhadap penggunanya, kebobrokan institusi polisi, sampai senioritas dalam skena. 

Bisa cek lagu berjudul Residu Era Nirkabel berdurasi 1 menit lebih, misalnya. Judul lagunya terasa canggih dan pembaca mungkin bisa menangkap arah isi liriknya yang mengangkat tema-tema seputar teknologi. Tapi ketika membaca liriknya, hanya ada satu kata di sana, yakni “horéam” (Bahasa Sunda: malas) yang dilafalkan berulang-ulang.

Disemberg poster hawar press. Foto: Disemberg.

Mengenai ini, Qew mengatakan, pada saat membuat lirik Residu Era Nirkabel, tidak bermaksud merespons budaya digital atau kecanggihan zaman sekarang. Tapi, ia lebih menyasar penggunanya yang dinilai semakin malas seiring teknologi berkembang.

“Kami meyakini ada residu dalam era yang terjadi sekarang. Sifat malas pada banyak orang hari inilah residunya. Orang-orang di sekitar kita secara tiba-tiba menjadi pemalas karena mereka merasa sudah memiliki segalanya dalam genggaman. Kontra produktif. Kami tak suka dengan fenomena ini. Horéam adalah bahasa sunda yang artinya ‘malas’ dalam bahasa Indonesia. Kami ulang kata horéam sebanyak 12 kali pada ‘Residu Era Nirkabel’ karena itu yang kami mau sampaikan,” ujar Qew.

Kemudian yang paling kritikal sekaligus aktual adalah lagu berjudul An Ode to Bhayangkara. Sekilas membaca judulnya, pembaca mungkin bisa menebak ke arah mana lagu ini?

Yup, betul. Institusi yang saat ini diramaikan oleh beragam kasus, mulai dari kasus Ferdy Sambo, kasus di Stadion Kanjuruhan, dan mungkin masih banyak lagi kasus serupa di daerah-daerah yang belum tertangkap banyak mata media sampai netizen.

Simak cuplikan lirik An Ode to Bhayangkara berikut:

“Pikiran dan tampilan seragam/Menjadi modal tuk baku hantam/Jadi apa yang kau yakini?/Jadi siapa yang kau lindungi?/Maaf kami masih membencimu/Persetan oknum!”

Yup. Straight to the point.

Tentu saja lagu An Ode to Bhayangkara, meski diproduksi pada awal 2022, semakin menemukan relevansinya sekarang-sekarang ini. Dengan nada yang cukup sinis, Qew mengatakan, lagu tersebut pada dasarnya merupakan lagu-lagu ‘pujian’ untuk polisi.

“An Ode to Bhayangkara adalah rangkaian pujian untuk mereka yang korup, yang represif, yang bertindak seakan dirinya manusia paling unggul di muka bumi. Ini tertulis lagi-lagi tidak jauh dari apa yang kami lihat, yang kami alami. Saya dan Aba pernah dipukul keras oleh mereka, padahal kami tak melakukan pelanggaran apa-apa di waktu kejadian. Aneh aja,” ujarnya.

Disemberg Live at Poixxxon Soundcase 1. Foto: Fathur.

Produksi Mini Album

Mengenai produksi mini album Singlar, Qew mengatakan, prosesnya berlangsung mulai dari akhir 2021 hingga awal 2022. Proses perekaman dilakukan di TearGasLab (sebuah studio di kawasan Cicadas, Bandung) pada periode Oktober-November 2021.

Kemudian mixing dan mastering dilakukan oleh Nekrolab di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, pada periode Desember 2021 sampai Januari 2022. Adapun proses produksi cetak pada format kaset dilakukan pada periode Februari sampai Maret 2022. Dan pada akhirnya, label rekaman Hawar Press secara resmi merilisnya pada 24 Maret 2022.

Bila kita melihat kover album Disemberg, akan terlihat sebuah karya fotografi semacam antena dengan latar belakang awan senja kemerah-merahan di baliknya. Memberikan kesan tentang kegelapan yang seakan-akan memakan setiap kecerahan yang telah disuguhkan oleh siang.

Mengenai ada tidaknya makna tertentu di balik kover album, Qew lebih memilih untuk menyerahkan kepada penikmat. Hanya saja, yang jelas, Qew mengaku bahwa pada awalnya ia menikmati karya fotografi temannya, Didin.

Menurutnya, artwork fotografi yang menjadi kover mini album Disémberg merupakan jepretan temannya itu ketika tengah berlibur ke Bandung. “Karya fotografi yang baik menurut kami secara komposisi. Momennya, objeknya, warnanya, kami suka aja. Apakah foto itu mewakili isi Singlar? Jawabannya kami serahkan ke kalian yang melihat dan mendengarkannya. Pada awalnya, kami memang ingin punya album dengan grafis sampul hasil karya fotografi,” ujar Qew.

Disemberg Live at Despotic Forms. Foto: Arifansdr.

Rencana ke Depan

Disémberg tentunya masih memiliki jalan panjang yang terbentang. Bermodalkan karya-karya dalam mini album Singlar, terdapat berbagai kemungkinan luas bagi mereka untuk terus berkreasi.

Qew sendiri mengaku bahwa Disemberg memiliki beberapa rencana ke depan setelah usai merilis Singlar. Tour ke beberapa kota tengah direncanakan bersama band-band satu komunitasnya, seperti Horrified (death metal/punk) dan Moremyrk (death doom).  “Mungkin tour itu akan terealisasikan pada awal tahun 2023,” ujarnya.

Tidak hanya itu, bahkan Disémberg berencana untuk mengubah arah musikalitasnya untuk waktu ke depan. Qew mengaku bahwa ia akan menggubah lagu dengan memasukan unsur-unsur death metal, meski masih berada di teritori hardcore/punk. Mungkin ala-ala Entombed, Bolt Thrower dan Dismember awal yang banyak kerasukan Los Crudos.

“Karena personel tinggal berdua sekarang. Lalu yang bantuin kami adalah anak metal semua nih, jadi ke depannya akan terasa agak lebih death/punk mungkin. Akhir-akhir ini kami lagi suka suara-suara yang dimainkan oleh Mammoth Grinder, Doldrey, Paranoid, Masakre, Extreme Decay, termasuk Moremyrk dan Horrified. Ya bisa ditebak ke depannya garapan musik kami bakal seperti apa,” ujarnya.***

Profil Penulis

M. Ashari. Lulusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Masa remajanya banyak terpengaruh oleh band-band cepat power violence, terutama Hellnation. Tapi semakin tua, kesenangan musiknya malah semakin lambat, seperti Saint Vitus, Warhorse dan Khanate.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: