Di GSPI, Seniman Muda Upi Pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan”

Sekelompok mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melangsungkan pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023.

Mereka yakni Azizsy Shafarona Duati, Bayu Adikusumah, Dwi Sobarkah, Fikri Ilham Nugraha S, Gugun Gunawan, Karyana Tri Utama, M. Abdul Azies, M. Nashruullaah, Revaleka, Sidik Sazudin.

Kesepuluh seniman ini sedang mencoba berbagai kemungkinan dalam melakukan proses penciptaan karya. Merangkai masa depan di hari ini yang akan segera menjadi masa lalu.

Kurator pameran ini, Anton Susanto menuturkan, proses kreatif memiliki korelasi yang sangat erat dengan pemecahan masalah.

Maka tak heran bila seniman terus menerus tertantang untuk mencari hal-hal baru dalam melahirkan karya. Dalam proses penciptaan terkadang seniman memerlukan satu tonggak acuan yang kemudian ia akan bergerak bebas dengan tetap mengacu pada tonggak tersebut.

Namun, sebagai sebuah proses yang cair dan sangat fleksibel, tak jarang justru dalam proses tersebut seniman menemukan tonggak-tonggak baru yang mana menjadikan sebuah penjelajahan tiada akhir.

“Dalam kecenderungan seni rupa hari ini segala aspek dapat dipilih dipilah dan dijadikan dasar atau tonggak yang menjadi acuan dalam proses penciptaan dan dikembangkan. Dalam hubungannya dengan problem solving, seni acap mempertanyakan seni itu sendiri, yang mana hal ini telah mengantarkan kita pada kecenderungan seni hari ini. Di saat bersamaan banyak pula seniman yang menciptakan karya dengan menarik hal-hal yang tidak atau belum berhubungan dengan seni itu sendiri,” tuturnya.

Dalam pameran kali ini, kata Anton, tajuk “Dari Dalam, Luar, Belakang dan Depan,” merupakan sebuah kata kunci bagaimana masing-masing seniman yang terlibat dalam pameran ini mengkonstruksi gagasannya menjadi karya.

Beberapa seniman membuat karya dengan berdialog dengan inner-self  masing-masing sebagai hasil perjalan waktu. Kondisi inner-self saat ini merupakan kumulasi dari perjalan waktu yang menyejarah.

Sedikit bergeser dari inner-self, beberapa seniman memilih aspek di luar ke “diriannya” tradisi sebagai produk masa lampau yang saat ini sedang dihadapkan pada perubahan zaman. Kondisi-kondisi yang romantik dan kontradiktif menjadi inspirasi lahirnya karya-karya.

Bahkan “kematian” sebagai sebuah masa depan setiap mahluk hidup pun tak luput menjadi hal yang ditelusuri yang kemudian dibagikan dalam bentuk karya visual.

Dengan modus dan latar yang cukup beragam, para seniman ini menggunakan medium dan teknik melukis dengan berbagai varian teknik dan juga metode untuk menghadirkan gagasannya masing-masing dalam formasi pameran.

“Melalui rangkaian sepuluh karya dari sepuluh seniman ini pun spektator tetap diberikan keleluasaan untuk dapat melakukan apresiasi ataupun interpretasi dari berbagai aspek maupun sudut pandang, bisa dari ‘Dalam, Luar, Belakang, dan Depan.’,” ucap Anton.

Karya Azizsy Shafarona Duati di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Karya Azizsy Shafarona

Azizsy Shafarona Duati lahir di Bandung, 2000. adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, Indonesia yang mengambil peminatan Seni Rupa Murni.

Karya- karyanya memiliki suasana gelap, brutal, dan menyeramkan dengan banyak mata, warna hitam dan merah. Media yang ia gunakan adalah tinta, pena, cat air, dan oil pastel. Hal ini juga dipengaruhi oleh ketertarikannya yang besar pada dunia musik metal, punk, dan phonk.

Dalam pameran ini ia mengahdirkan karya berjudul “Poison Infection” berukuran 1 m x 1,4 m dengan material Gouache dan tinta di atas kertas watercolor.

Karya ini nukil dari lagu “7th Deadly Sins” ciptaan band metal asal Bandung, Beside. Ia merespons penggalan lirik “Booming like poisoned mushroom everywhere. Seventh deadly sin, seventh dead of destructions” dari lagu itu, yang diartikan sebagai “Booming seperti jamur beracun di mana-mana. Ketujuh dosa mematikan, kematian ketujuh kehancuran

Dari lirik yang dijabarkan di atas, Shafa memaknainya sebagai manusia yang ditumbuhi oleh dosa-dosa dan dapat “mematikan” atau menghancurkan manusia itu sendiri. Penggambaran tersebut dilakukan melalui jamur-jamur beracun yang bermunculan melalui tubuh subjek dan juga tubuh subjek yang duduk meringkuk menutupi wajahnya.

Karya Bayu Adikusumahdi pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Bayu Adi Kusumah

Bayu Adi Kusumah merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2019. Dalam proses berkaryanya, Bayu selalu mengangkat isu-isu personal tentang pengalaman hidupnya dan memori-memori yang dibawa bersama orang-orang terdekatnya.

Pengkaryaan yang dilakukan Bayu lebih merujuk pada penggayaan realis dan romatisme karena berfokus kedalam emosi, imajinasi dan perasaan. ketertarikan dalam penggayaan atau aliran lukisannya itu telah ia terapkan dari dari awal 2022 hingga kini.

Baca Juga :   Biografi dan Jejak Karya Seniman Rini Maulina

Di pameran ini, ia menawarkan karya berjudul “Their time in the Afternoon,” berukuran 90 × 140 cm dengan material cat akrilik di atas kanvas.

Pada karya ini ditampilkan dua individu yang digambarkan sebagai pasangan yang sedang menikmati waktu mereka di atas kursi, di tengah reruntuhan bangunan rumah dengan latar warna hangat di suasana senja.

Penggambaran dua individu dan suasana di sore hari ini merupakan salah satu gambaran dari fase kehidupan yang terinspirasi dari karya Thomas Cole yaitu Thomas Cole yaitu “The Course of Empire”. The Course of Empire adalah rangkaian lima lukisan yang dibuat oleh Thomas Cole pada tahun 1833–1836 sebagai fase atau siklus kehidupan dari fase terbit dan terbenamnya matahari serta kehidupan dan kematian manusia.

Dari dasar itu, karya ini diarahkan ke ruang lingkup penggambaran yang lebih kecil yaitu individu dan keluarga. Karya ini berada pada fase keempat dari lima fase di mana penggambaran orang dewasa dengan kompleksitas kehidupannya serta penggambaran suasana dan bangunan runtuh atau rusak yang terinspirasi dari karya lukisan ke-4 Thomas Cole yaitu “Destruction” yang bermakna kehancuran lingkungan.

Sedangkan pada karya “Their time in the Afternoon” ini, kehidupan pasangan dan individu tetap berjalan meskipun alam dan lingkungan yang hancur tidak memberikan kehidupan yang ideal bagi mereka.

Karya Dwi Sobarkah di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Dwi Sobarkah

Dwi Sobarkah dikenal akrab dengan sebutan Sobsob merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di Univesitas Pendidikan Indonesia angkatan 2019. Dalam pengkaryaan Dwi berfokus dengan menggunakan media cat akrilik sebagai metode dalam berkaryanya serta kerap membawakan kebudayaan daerah dalam karya sebagai identitas yang melekat sebagai putra daerah.

Dalam karya “Kuda Renggong #2” berukuran 100 cm x 130 cm dengan media akrilik di atas kanvas, Dwi mengangkat tema mengenai kesenian Kuda Renggong. Pemilihan tema kesenian daerah ini karena seperti Kuda Renggong sebagai warisan dari leluhur kita sampai sekarang berkembang mengikuti perkembangan zaman masih tetap eksis dan mempunyai tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

Pentingnya pelestarian kebudayaan ini agar para generasi muda masih tetap melestarikan dan menjaga kesenian turun temurun hingga tetap lestari.

Karya Fikri Ilham Nugraha S dipameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Fikri Ilham Nugraha Saparulh

Fikri Ilham Nugraha Sapaaruloh, atau biasa disapa Fikri, merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia sejak 2019. Dalam proses berkaryanya, Fikri kerap memulai lukisannya dengan abstrak. Ia menyukai menyukai permainan warna dalam gaya ini.

Fikri juga ingin menghadirkan rasa keakraban dan nostalgia pada audiens dengan menjaga tema tetap sederhana, tetapi pada saat yang sama menambahkan sentuhan artistik pribadi ke dalamnya.

Melalui seni, ia ingin menangkap emosi dari momen yang ia saksikan atau alami, dan menyampaikannya kepada penonton sedemikian rupa sehingga mereka juga dapat menikmati hal yang sama.

Karya “Kelompen Geulis” berukuran 80 cm x 120 cm dari materi akrilik di atas kayu ia hadirkan dalam pameran ini. Ia ingin membawa penggambaran pada daerah ciri khas Kelom Geulis, Kota Tasikmalaya, tanpa menghilangkan etnik dari mana asal sandal tersebut.

“Kelompen Geulis” yang artinya Kelom Geulis ini memiliki sebuah pengaruh kuat yang mengilhami dirinya untuk menggambarkan emosi di kehidupan sehari-hari yang tertuang dalam karya ini.

Fikri mengambil inspirasi dari karya-karya hebat seperti Muchlis Fachri a.k.a Muklay, dan Miftah alias Monchrome Monkey, dan telah mencoba membuat ulang versi dirinya .dengan jenis gaya aliran Pop Art.

Karya Gugun Gunawan di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Gugun Gunawan

Gugun Gunawan juga mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia sejak 2019. Gugun cukup aktif dalam kegiatan kesenirupaan seperti mengikuti beberapa pameran secara lokal, nasional, regional, hingga internasional. Karya-karya Gugun cenderung mengarah pada pendekatan gaya surealis yang divisualisasikan menggunakan pendekatan teknik lukis klasik serta penggunaan warna heraldis pada objek figuratif.

Subject matter karya gugun berkaitan erat dengan tema-tema mengenai isu sosial, budaya sekitar yang secara umum kasus dan fenomenanya secara empiris dialami oleh Gugun sendiri.

Karya “Ngujuban 2” berukuran 100 cm x 150 cm dari cat minyak di atas kanvas dijadikan unggulan di pameran ini. Karya ini didominasi dengan objek still-life yang merupakan representasi dari artefak-artefak sesajen pada ritual Ngujuban dam divisualisasikan dengan pendekatan presentasi gaya seni lukis still-life abad ke-16.

Ia menaruh penggunaan warna gelap pada latar yang diadopsi dari model seni lukis Chiaroscuro dari masa Renaissance dan Baroque untuk menimbulkan kontras yang kuat. Beberapa objek dikondisikan dengan tidak sebenarnya sebagai konsep surealis dan untuk memenuhi kebutuhan interpretasi.

Baca Juga :   Lukisan Jalak Bali dan Ikan Rayakan Kembalinya Hardiman ke Bandung

Karya ini menyoal konteks Ngujuban sebagai budaya dan tradisi masyarakat Sunda mengalami sebuah perubahan yang cukup radikal terutama sebagai wujud budaya dalam bentuk sesajen.

Penetrasi benda budaya baru atau kekinian pada sesajen Ngujuban biasanya diisi oleh benda-benda lokal khusus yang harus diperlakukan khusus dengan orang yang khusus. Presentasinya di masa kini tidak terlepas dari perubahan sosial budaya masyarakat Sunda sendiri serta hasil dari pro dan kontra mengenai Ngujuban, terutama dalam bidang agama yang menjadikan Ngujuban sekarang cukup banyak berubah dari Ngujuban masa lalu yang dialami oleh Gugun.

Karya Karyana Tri Utama di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Karyana Tri Utama

Karyana Tri Utama merupakan mahasiswa pendidikan seni rupa di Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengambil konsentrasi di karya seni lukis. Saat ini ia berkarya melalui banyak medium dengan banyak mengakat mengenai isu profesi dan sosial di sekitar, serta aktif terlibat dalam sebuah proyek pameran dan bergiat di kolektif seni.

Karya berjudul “Lack of Appreciation” berukuran 90 x 110 cm melalui cat minyak dan akrilik di atas kanvas ini merupakan respons terhadap isu profesi di belakang layar yang kurang diapresiasi keberadaannya.

Visualisasi belakang kanvas merupakan analogi terhadap gagasan yang diangkat. Visualisasi yang dihadirkan sangat dekat dengan medium karya seni rupa. Hal ini dipengaruhi dengan latar belakang penciptaan ini yang timbul akan keresahan terhadap beberapa profesi yang kurang dikenal dan diapresiasi dalam seni rupa.

Selain objek yang dibentuk, pilihan warna pun merupakan salah satu ungkapan yang berkatian dengan karya ini. Warna merah diambil sebagai warna dominan untuk memberi gairah terhadap isu yang diangkat sebagai pemikat terhadap isu profesi di balik layar yang seharusnya mendapat apresiasi lebih.

Karya M. Abdul Azies di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Muhammad Abdul Azies

Muhammad Abdul Azies merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2019. Dalam proses berkarya, Azies selalu mengangkat isu-isu sosial baik dari dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Pengkaryaan yang dilakukan Azies lebih merujuk pada penggayaan ekspresionis dan realis. Ketertarikan dalam penggayaan atau aliran lukisannya itu telah ia terapkan dari dari awal 2022 hingga kini.

Karya “Identity” di pameran ini tampil dalam ukuran 120 cm x 130 cm lewat akrilik di atas kanvas. Karya ini menampilkan sebuah objek figur seorang pria yang tengah merokok dan duduk di atas sofa serta kaki kanan yang diangkat di atas kaki kirinya.

Seperti judulnya , lukisan ini menjelaskan mengenai identitas pada dirinya, di mana pria tersebut merupakan gambaran dari seseorang dengan kelas atau golongan tinggi di masyarakat.

Penggambaran pria dengan mengenakan jas berwarna ungu untuk menunjukkan sebuah warna mahal yang digunakan pada zaman dahulu karena sulit untuk didapatkan. Kaki yang diangkat ke atas dengan bertumpu di kaki lainnya dijelaskan pada buku You Can Lie to Me.

Buku karya penulis Janine Driver itu mengatakan bahwa gestur tersebut merupakan sebuah tanda bahwasannya seseorang tengah mendominasi pada saat melakukannya. Sebuah rokok yang dipegang dengan tangan kirinya menandakan bahwa rokok digambarkan seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa merenggut kebahagiaan seseorang atas kebahagian yang ia dapatkan ketika menghisap rokok tersebut.

Intinya pada karya ini menjelaskan gambaran yang didapat upper-class, baik itu kekayaan maupun jabatan hanyalah merupakan sesuatu yang bersifat sementara. Ketika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik seperti untuk kebermanfaatan sesame, maka akan seperti bom waktu yang akan menghancurkan dirinya sendiri atas apa yang ia punya.

Karya M. Nashruullaah di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Muhammad Nashruullaah

Muhammad Nashruullaah, atau kerap disapa Nashrul, merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2019. Dalam proses berkaryanya, Nashrul kerap menggunakan pendekatan isu sosial, arsip sejarah dan personal yang bertautan dengan produk budaya di lingkungan sekitarnya, serta acap menggunakan warna-warna berpendar dalam kekaryaanya. Saat ini Nashrul aktif terlibat dalam berbagai pameran dan kegiatan kesenirupaan lainnya, baik di tangkat daerah maupun nasional.

Karya “Kuldesak” berukuran 120 cm x 120 cm dari akrilik di atas kanvas ia hadirkan di pameran ini.

Dalam karya ini, ia mengangkat tema mengenai Dangding atau salah satu bentuk puisi berbahasa Sunda karya Haji Hasan Mustapa. Dalam Dangding tersebut terdapat tiga bait.

Baca Juga :   Like/Dislike: Pameran Keindahan Dalam Semak Belukar

Ia mengambil salah satu penggalannya yaitu “Ceuk aing Allah mah saha, ceuk saha Allah mah aing”.

Nashrul mencoba menafsirkan penggalan yang kaya akan pertanyaan dan pernyataan tersebut dengan pendekatan vertikal antara Tuhan dan manusia. Pendekatan lain yang juga saya lakukan adalah mengenai objek figuratif berkain sarung yang tergagas dari kesenian Ronggeng Gunung, yang dalam gerakan tariannya seraya berputar searah jarum jam, secara kontekstualitas dengan penggalan dangding diatas ialah mengenai posisi manusia akan ketidaktahuan, saling menuduh, siapa dirinya dan darimana ia berasal.

Proses manusia dalam mengenali Tuhannya tentu melalui perjalanan panjang dan berliku, tidak jarang dalam proses pendekatan tersebut ditemui sifat manusia yang selalu merasa paling dekat dan benar. Sehingga makna “ceuk aing” dan “saha” merupakan bentuk keegoisan manusia dalam perlombaan pencarian dalam mengenali Tuhannya, yang kemudian akan bermuara di kebenaran yang sama, pada akhirnya.

Karya Revaleka di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Revaleka

Revaleka merupakan mahasiswa program studi S-1 Pendidikan Seni Rupa Angkatan 2019 sekaligus mahasiswa program percepatan studi S-2 Pendidikan Seni 2022 yang sedang menyelesaikan masa studinya di Universitas Pendidikan Indonesia. Reval dikenal pula sebagai perupa muda yang berbasis di Bandung yang berfokus dengan menggunakan media cat minyak sebagai metode berkaryanya, dengan sapuan kuas dan warna yang impresif serta pendekatan karya layaknya karya fotografi analog tembang kenangan.

Nostalgic, enigmatic, dan paradoxical merupakan sifat yang cocok untuk mendefinisikan karya-karyanya. Saat ini Revaleka sangat aktif dalam berkegiatan kesenirupaan serta meraih banyak prestasi melalui seleksi kuratorial di berbagai pameran nasional, regional maupun internasional. Baru-baru ini Revaleka menerima penghargaan sebagai UOB Most Promising Artist of the Year 2022 yang menjadi salah satu seniman emerging mewakili Indonesia secara regional.

Di pameran ini, ia memajang karya berjudul “The Fam” berukuran 100 x 150 cm lewat cat minyak di atas linen.

Karya ini merupakan karya ke-4 dari series yang masih dalam tahap pengembangan oleh Revaleka yang dalam pendekatannya menghadirkan figur atau tokoh animasi populer jepang atau anime yang mewarnai dan tumbuh bersama Revaleka dalam proses perjalanan kreatifnya.

Pada seri ini Revaleka mengajak penghayat untuk melintasi waktu dalam bingkai anakronisme dan parodi merujuk pada penggabungan elemen atau karakteristik dari periode waktu yang berbeda dalam satu karya.

Disiasati dengan menggabungkan tokoh/figur anime populer dengan kehidupan 80’s yang menawan dan penuh warna sehingga menawarkan eksplorasi kisah-kisah baru dan  engimajinerkan masa lalu yang indah.

Dalam karya “Fam” adalah istilah perpanjangan modern dari konsep keluarga tradisional, yang mengakui bahwa orang dapat membentuk hubungan yang bermakna, kuat dan langgeng dengan orang-orang walau tanpa memiliki ikatan darah. Sehingga secara visualnya ditumpahkan oleh Revaleka di atas kanvas sebagai usaha untuk meleburkan batas waktu dan membiarkan imajinasi membawa ke dalam petualangan (nostalgia) yang mengasyikan.

Karya Sidik Sazudin di pameran “Dari Dalam, Luar, Belakang, dan Depan,” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 6-14 April 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Sidik Sazudin

Sidik Sazudin, atau biasa disapa Sidik, merupakan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia sejak 2019. Dalam proses berkaryanya, Sidik memulai eksplorasinya di illustrasi kemudian kolase dan sekarang aktif melukis. Dalam proses kreatifnya ia tertarik mengangkat isu yang terjadi pada dirinya dan di luar dirinya oleh karena itu ia menemukan penggayaan dalam berkarya nya saat ini yaitu montase dan gestural abstrak.

Karya berjudul “WiMtBH (what it means to be human?)” berukuran 100 cm x 100 cm dihasilkan dari media campur di atas kanvas. Pada karya ini ia ingin mengangkat perasaan sedih atau duka karena menurut beberapa individu, dengan merasa bersedih atau berduka mereka dapat melupakan segala hal yang.

Namun tidak sedikit individu juga yang melupakan perasaan lain hanya untuk luput dari perasaan-perasaan lain Individu tersebut atau seperti lupa agar tetap hidup bahagia. Maka dari itu Sidik ingin memvisualisasikan bahwasannya sebagai individu kita tidak usah terlalu berlebihan dan menutup diri. Ada kalanya individu harus merasakan berbagai perasaan perasaan yang muncul jujur dari jati diri mereka.

Pada karya kedua ini ia memvisualisasikan montase dengan objek individu yang sedang bersedih/berduka. Namun, Sidik memiliki interpretasi bahwa tidak harus selamanya larut dalam kesedihan dan itulah yang harus dirayakan agar kita tahu jawaban dari “what it means to be human?” karyanya.***

Posts created 399

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top