‘Dekaden Lintas Dekade’ Blakumuh, Geliat Singa Tua di Tengah Riuhnya Hip Hop

Menjadi salah satu grup pelopor hip hop Indonesia, keberadaan Blakumuh tercatat dalam album kompilasi Pesta Rap yang dirilis 1994, bersama Sindikat 31, Black Skin, dan perintis boombap di era 90an lainnya.

Namun, butuh melintas nyaris tiga dekade untuk akhirnya bisa terlahir album perdana, Dekaden Lintas Dekade, yang dirilis DropBeats dan Grimloc Records pada Juli 2022.

Grup yang kini menyisakan Erik “Mr. EP” dan Adoy “Doyz” ini menjadikan album Dekaden Lintas Dekade sebagai materi tempur untuk menguji kemampuan di tengah MC muda sekelas Krowbar, Tuan Tigabelas, Rand Slam, Jere Fundamental, hingga Joe Million.

Di keriuhan ranah hip hop yang kini mulai solid terpancang, Blakumuh kembali dengan pengaruh dari kaset-kaset yang menemani mereka di jalanan Jakarta 90an, mulai dari Gangstarr, Artifacts hingga Dilated People, dari Eric B & Rakim, Juice Crew hingga era awal Soul Assassins.

Album berisi 13 track ini diproduseri penuh oleh tim produksi Napalm Squad (Morgue Vanguard, Jaydawn dan DJ Evil Cutz), plus satu track oleh Prime Manifez dan satu remix dari Densky9.

Foto: Blakumuh.

Awal Blakumuh

Blakumuh dibentuk Ipul, Anjar, Mr. EP, dan Doyz, pada 1993. Di tengah perjalanan karier mereka, Ipul dan Anjar telah lebih dahulu berpulang.

Saat itu, Doyz bercerita, ekosistem hip hop Jakarta belum terbentuk solid: tercecer tanpa skena. Semua bermula dari jalanan dan pinggiran pertokoan, yang tentu saja kala itu Blok M jadi andalan. Dengan bantuan kenalan Erik, mereka “ngamen” berperangkat announcer box penyokong jualan Ramayana, Borobudur, Matahari. Dari situ, nama Blakumuh terucap.

“Kita nge-jam. Namanya bocah, ya spontan aja. Kita datang pake sendal jepit. Salah satu announcer-nya pernah bilang: ‘udah ngerap, dekil-dekil, jelek, kumuh banget’. Blackumuh. Kita pikir lucu juga ya jadi gimmick nama grup,” kata Doyz.

Passion Blakumuh di arena hip hop makin kuat. Banyak panggung kompetisi mereka jajal. Ekosistem rap belum sepenuhnya utuh. Jangankan freestyle battle, istilah hip hop pun masih terbenam kejayaan disko.

“Kalau sekarang dibandingin zaman kita jauh beda ya. Zaman kita mulai dulu skena tuh enggak ada. Di Jakarta paling mulai 96-an. Awalnya diskotik. Kita juga belom ada buat lagu sendiri. Fix lah kita ngikutin apa yang ada di Amerika aja. Skena mulai 96 itu di Hotel Mulia ada klub Jazz Bar, penampilan live band black people bawain hip hop, RnB. Di situ kita nongkrong bareng,” katanya.

Doyz bercerita, eksistensi MC kala itu masih di fase sejauh mana mampu menginterpretasikan artis luar semirip mungkin. Pengakuan bakal muncul dari MC yang paling mirip dari segi pelafalan (pronunciation), dan tentunya performa.

“Kebetulan dulu kita jago niru, jadi menang terus. Sampai akhirnya ada kompetisi tahun 94 itu diadakan Majalah Kawanku, namanya Eat Wonderland, di JHCC. Akhirnya kepilih di festival juara satu dan kepilih buat masuk Pesta Rap 1994. Ternyata di acara itu buatan bekerja sama dengan Guest Music, jadi finalisnya di lomba itu diambil buat (album) Pesta Rap. Tapi saat itu enggak di-announce. Kita tahunya cuma rumor aja kalau menang lomba ini bisa rekaman lho, gitu aja,” ujar Doyz.

Ia mengungkap, presentasi karya rapper muda seperti Rand Slam dan Joe Million yang menyeret Blakumuh ke arena hip hop, tentunya dimulai dengan album.

“Yang bikin saya pengen album ini, ya (album) Vulgar-nya Joe Million, 2017. Sebelum itu ngamatin rapper Rand Slam di Sound Cloud, examine lirik dia tuh, wah gila. Akhirnya kita ngerasa yang tua ini, kok dia bisa kita ngga ya? Kalau buat pribadi kehadiran mereka memberikan banyak faedah buat kita. Kalau referensi memang gaul sama Ucok (Morgue Vanguard) dari zaman Myspace. Ngebedah lirik Homicide mulai berani drop name. Dulu zaman Pesta Rap kita enggak punya kebebasan privilege kayak gitu,” tutur Doyz.

“Dulu kata bangsat aja susah banget. Dulu eranya beda banget kan. Pake diksi rakyat aja dulu rapornya udah merah,” kata Erik, menambahkan.

Artwork Dekaden Lintas Dekade Blakumuh. Foto: Blakumuh dan Grimloc Records.

Dekaden Lintas Dekade

Sebenarnya, Blakumuh tak pernah jauh dari kesempatan mencipta pembuatan album perdana selepas single mereka di album kompilasi Pesta Rap pertama, “Kaum Kumuh”. Sebagai alumni kontributor Pesta Rap Vol. 1, 2, dan 3, sempat muncul wacana produksi album bagi grup terbaik bersama Sweet Martabak.

Rencana itu urung terwujud dan beralih ke peleburan keduanya menjadi P-Squad. Proyek ini juga tak berjalan mulus dan terhenti. Kendala yang sama berulang dalam wacana menghidupkan kembali Blakumuh pada 2014.

Doyz sempat dengan merilis album solo yang berjudul Perspektif pada 2002, serta album kedua Oblivion yang dilansir 2015. Pada 2018, Doyz berkolaborasi dengan Morgue Vanguard lewat album Demi Masa. Tetapi, upaya untuk melansir album Blakumuh masih terus didesak.

Para “Singa Tua” hip hop Indonesia ini terus digempur blokade dalam upaya merealisasikan album pertama mereka. Keseriusan rancangan album bareng Aldye dari DripsnDrops yang diinisiasi sejak 2017 juga sempat tertahan oleh rentetan peristiwa bom di Jakarta, dan akhirnya pandemi Covid-19 di akhir 2018.

Kini, tak ada yang bisa menahan barisan materi rima yang telah disiapkan para veteran. Proyek album perdana bersama DripsnDrops lewat Dropbeats dan sokongan penuh Grimloc Records bisa berujung hasil yang diimpikan.

“Kalau dulu kita lebih ke style. Sekarang lebih ke lirik. Persamaannya, sama-sama belagu. Namanya juga hip hop. Secara musik kita pengen balikin rasa dulu, zaman 90s, East Coast, bumping-bumping, ditambah lifesaver Bang Ucok (Morgue Vanguard) yang bisa ngeramu otak kita gimana jadi Blakumuh dulu. Kita coba-coba akhirnya jadilah Dekaden Lintas Dekade,” kata Erik.

Bersama DJ Evil Cutz dan Jaydawn di Napalm Squad, Morgue Vanguard (MV) memang menjadi bagian yang paling bergairah untuk merealisasikan album pertama Blakumuh. Kemiripan terbentuknya sudut-sudut kecil unit rap di Jakarta dengan kolektif hip hop di Bandung yang mendorong Napalm Squad tergerak menukangi penuh kebangkitan Blakumuh ini.

Pasokan album-album hip hop impor yang dikonsumsi Jakarta serupa dengan apa yang mempengaruhi kolektif di Bandung karena tumbuh di zaman yang sama. Ketika proses produksi dipercayakan kepada Napalm Squad, Morgue Vanguard bukan menganggap layaknya tugas, melainkan mainan baru yang menyenangkan.

“Saya me-revival era itu, diskusi mereka mewawancara mereka, seperti (bersepakat) dengan sound (dari pengaruh) Artifacts, Soul Assasins, Gangstarr, Dillated People. Dengan kosakata seperti itu, bukan tugas tetapi kayak bermain-main. Saya berterima kasih karena album ini bisa masuk CV saya: memaksa Blakumuh bikin album dan akhirnya merilisnya,” ujar MV.

Termasuk soal pengaruh artwork yang sempat mereka kagumi di masa itu untuk dilimpahkan sebagai konsep visual sampul album Blakumuh Dekaden Lintas Dekade. Dalam prosesnya, Blakumuh dan Napalm Squad larut mengenang masa-masa melahap artikel-artikel dari majalah The Source dan Rap Pages.

Di zaman itu, mereka mengenal Matt Doo, ilustrator majalah Rap Pages yang begitu ikonik dan menjadi kitab sucinya jemaat rap. Matt Doo pula yang menggambar masterwork album Extinct Agenda milik Organize Konfusion.

“Kita sama-sama pengagum Organize Konfusion, khususnya album Extinct Agenda. Buat kita kalau lihat gambar Matt Doo itu langsung memorinya ke 90an. Jadi kita sepakat me-revival bikin homage buat Organize Konfusion. Kemudian dicari siapa yang bisa bikin ilustrator total rip off, cuma ganti objeknya. Akhirnya dipilih Reza Crack The Toy dari Depok. Saya ngelihat portofolionya luar biasa, album Tuan Tigabelas, font-nya, dan lainnya,” kata MV.

Artwork Dekaden Lintas Dekade Blakumuh. Foto: Blakumuh dan Grimloc Records.

Ruang Tertindas

Dekaden Lintas Dekade menjadi manifestasi display lirikal khas Blakumuh yang selama ini dikenal: Gabungan akrobat semantik rima teknikal, vokal flamboyan Doyz dengan flow tegas diksi lugas Erik.

Erik dan Doyz begitu memperhitungkan album pertama ini. Berada di tengah arena musik hip hop yang semakin ramai, Dekaden Lintas Dekade mengantarkan manifestasi ego atas larik, juga cerita, memori, gugatan, serapah atas banyak hal yang terjadi di kehidupan mereka, di sudut-sudut kota mereka besar dan sudut- sudut ruang politik yang semakin mengasingkan.

Erik menuturkan, album ini kembali ke lingkungan sosial yang mereka amati. Blakumuh bisa menjadi reporter, saksi mata, yang menumpahkan sumpah serapah pada target-target yang diyakini menjadi pemicu ruwetnya situasi sosial-politik belakangan.

Blakumuh merasakan betul hadirnya pengembangan dalam banyak lini produksi album ini.

“Dibanding dulu tentu ada elevasi. Pastinya kita enggak pengen (materi) masih zaman Pesta Rap. Maksudnya dengan jeda album dua dekade dari single, kita harus allout, baik penulisan lirik, pemilihan produser, eksekusi artwork, kita pengennya allout. Dari lirik dengan gaya masing-masing kita kembangkan terus. Kalau ngomong puas sebenernya harusnya bisa lebih lagi,” kata Doyz.

Blakumuh menyadari kerasnya pertarungan di ranah hip hop hari ini. Nomor Blak Iz Bak, misalnya, menggambarkan kondisi mereka mencoba bertahan di tengah gilanya rapper muda sekarang.

“Tetapi ternyata gua perhatin lagi dibandingin temen-temen seangkatan kita, kita masih bisa elevate. Makanya gua bilang ‘berapa banyak singa tua tersisa di tapal batas’. Tapi engga cuma lo bertahan di tapal batas, lo bisa jaga rima lo dalam densitas yang tinggi enggak? Itu persoalan, karena itu menyangkut pribadi gua yang bergumul dengan passion ini,” ujar Doyz.

Dekaden Lintas Dekade juga membuktikan bahwa Blakumuh tetap menempatkan diri di tengah kaum tertindas. Dalam lagu Retropolutan memutar ulang bagaimana perlawanan warga Jakarta atas upaya-upaya penggusuran oleh pemerintah dan pemodal sepanjang era yang mereka alami.

“Sebagai kita yang ngalamin dulu sekarang enggak ada perubahan. Justru banyak entitas-entitas yang zaman dulu ini cuma goons, kayak Pak RW yang dimodalin investor untuk menghasut orang biar mau dijual semeter Rp1 juta, itu dulu udah ada goons-nya, udah ada premannya. Tapi sekarang itu udah berkembang jadi ormas, misalnya. Itu kita ngelihat kejahatan itu semakin elevate, sementara untuk penindasan itu sendiri tidak ada yang pernah berubah, masih terjadi. Itu buat kalau saya pribadi berkesan sekali track (Retropolutan) itu,” kata Doyz.

Track Listing Dekaden Lintas Dekade:

  1. BLAK IZ BAK
  2. MAKELAR PELEMPAR JANGKAR
  3. PASAT BERSIASAT
  4. DISTRIK 21 (NAPALM SQUAD MIX)
  5. RITUS ADARMA (AYAT 1 & 2)
  6. SINGKAP SELUBUNG BERHALA (SKIT)
  7. DEMOLISI DIKSI
  8. BHINNEKA TINGGAL DUKA
  9. RETROPOLUTAN
  10. CONGOR (SKIT)
  11. MANTRA PEMUTUS LIDAH (FEAT. INSTHINC)
  12. ELEGI PUSARA RIMA
  13. BHINNEKA TINGGAL DUKA (DENSKY9 REMIX)

Executive Producer: Aldye Dripsndrops

All lyrics written by Blakumuh

All songs written & produced by Morgue Vanguard, except “Elegi Pusara Rima” produced by Prime Manifez, “Bhinneka Tinggal Duka” produced by Densky9

Engineered by Jaydawn

All scratchworks by DJ Evil Cutz

Additional vox on “Mantra Pemutus Lidah”; Insthinc

Additional vox on “Congor (Skit)”: Xaqhala & Morgue Vanguard

Recorded at Cutz Chamber Bandung, & Larry Fattyman’s Studio Jakarta.

Mixed & Mastered by Hamzah Kusbiyanto Cover Artwork: Crack The Toy

Graphic Design: Herry Sutresna.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: