Debut Album “Di Dalam Jiwa”, Persona Baru David Bayu Selepas Naif

David Bayu merilis debut albumnya, yang bertajuk Di Dalam Jiwa, awal Oktober 2022. Rasanya, perlu waktu beberapa hari untuk meresapi dari lagu ke lagu dalam album ini. Boleh jadi, kuatnya pengaruh vokal David Bayu yang begitu melekat dari musik grup band legendaris Naif yang menjadi salah satu penyebabnya.

Sejatinya, merilis album solo bukan hal yang pertama dilakukan David. Pada 2009, ia pernah merilis album “DVD Boy,” yang dianggapnya sebagai proyek musik sampingan di tengah rutinitasnya bersama Naif. Sebelas tahun kemudian, proyek sampingan itu benar-benar diwujudkan sebagai proyek musik sungguhan pasca bubarnya Naif.

Berisi delapan buah lagu, album ‘Di Dalam Jiwa’ menampilkan track berikut:

  1. Di Dalam Jiwa
  2. Manusia
  3. It’s Ok for Me Now
  4. Deritaku
  5. Gelap
  6. Mana
  7. Surga di Hatimu
  8. Berserah

Sentuhan Segar

Tak sepenuhnya lebih segar, memang. Namun, menaruh “Di Dalam Jiwa” sebagai track nomor satu adalah pilihan yang tepat. Lagu ini bisa membawa pendengar mengenal persona baru David dari bayang-bayang “Naif.” Andai “Deritaku” yang disimpan sebagai track pertama, boleh jadi, sebagian pendengar akan terkecoh mengira ini adalah album baru Naif.

Dibuka sentuhan gitar akustik dan flute, “Di Dalam Jiwa” membawa kita pada nuansa penuh gairah untuk berdansa. Nuansa alat tiup memang selalu memberi gairah berbeda.

Jangkauan nada instrumen yang lebih luas, sentuhan gaung atau reverb pada sajian vokal David, cukup membawa kesegaran dan pembaruan musik. Selain itu, jangkauan nada pada tiap bagian lagu ini juga cukup luas, setidaknya lebih luas dibanding jangkauan vokal David saat mengisi lagu di bandnya dulu.

Di lagu pembuka, David bisa merepresentasikan dirinya sebagai solois meskipun dengan karakter vokalnya yang telanjur dicap “vokalis Naif banget.” Label “David Naif” ini memang tak bisa diprotes atau diubah.

Sempat terdistraksi lagu “Manusia,” pendengar kembali disuguhkan musik berbeda pada lagu “It’s Ok For Me Now.” Walau hadir dengan pendekatan khas vintage dengan sentuhan yang terkesan “lebih elektronik” pada pilihan instrumen yang melapisi tiap bagiannya, ditambah isian lirik bercampur Indonesia-Inggris, menjadikan lagu ini menjadi yang paling modern.

Foto: David Bayu.

Alternatif atas Naif

“Naif versi lite nih!” Begitu kira-kira kata yang tepat menggambarkan lagu “Deritaku.” Hadir vokal mendayu dengan interval nada yang begitu renggang, sentuhan kibor, drum dengan snare rendah yang begitu “basah,” hingga progresi akor yang familiar di bagian reffrain. Tak ada alasan “Deritaku” bersembunyi dari musik Naif di masa eksistensinya.

//Andai aku dulu, membuka hatiku

Hidupku takkan pilu//

Simak cara David membawakan potongan reffrain tersebut di menit 3:07. Lalu bandingkan dengan reffrain “Di Mana Aku Di Sini,” tepat di sepertiga akhir bagian lagunya. Rasanya, hanya isian gitar Vega Antares dalam proyek inilah yang menjadi pembeda.

Rasanya wajar jika “Deritaku” dirilis seminggu lebih awal dibanding album Di Dalam Jiwa. David ataupun tim promosi seperti memberi pancingan pada pendengar lewat sentuhan masa lalu, agar pendengar masih bisa mengenali David walau tipis-tipis.

Andai saja mereka melepas “Di Dalam Jiwa” atau “It’s Ok For Me Now,” mungkin reaksi pendengar pada album baru David akan berbeda dengan reaksi yang muncul saat ini: walau secara musikal rasanya hanya dua lagu ini yang benar-benar merepresentasikan kebaruan musik David sebagai seorang solois, tak lagi berada di bawah bayang-bayang sentuhan musik yang masih menyerempet gaya Naif.

Bukan Sekadar Pelengkap

Setengah bagian di album ini terkesan seperti pelengkap. Menelisik daftar pemutar lagu ini lewat Spotify per 14 Oktober 2022, angka putar keempat track terakhir; “Gelap,” “Mana,” “Surga di Hatimu,” serta “Berserah,” tak satupun ada yang melampaui angka putar empat track pertama.

Katakanlah pendengar menikmati delapan track ini sebagai Side A dan Side B, pendengar terkesan hanya membolak-balik Side A saja. Padahal, empat lagu terakhir ini tak bisa sekadar disebut pelengkap.

Nuansa sendu dan kontemplatif tidak bisa dilepaskan dari tiap bagian lagu pada track 5 hingga 8 ini. Soal karakter vokal David, sekali lagi, rasanya memang inilah aspek termahal yang pernah dimiliki Naif. Ke manapun David pergi, ingatan pendengar akan tertuju pada band tersebut.

Dalam keterangan resminya, ia menyebut lagu “Mana” dan “Berserah” punya latar belakang personal. Lewat lagu “Mana,” David mengisahkan kekecewaannya terhadap segelintir orang yang mengaku cinta lingkungan, namun malah merusak lingkungan itu sendiri. Sedangkan pada lagu “Berserah,” David seolah merenungkan apa yang pernah ia perbuat semasa hidupnya.

Walau terkesan seperti pelengkap, makna mendalam yang tersaji pada tiap track di empat lagu terakhir album ini menjadikannya tak layak hanya disebut pelengkap. Semoga saja, pendengar tak putar balik setelah lagu “Deritaku,” apalagi menekan tombol putar ulang khusus satu lagu dalam pilihan track “Deritaku.”

Foto: David Bayu.

Menikmati Proses

Proses kreatif album yang direkam selama masa pandemi Covid-19 ini nampaknya begitu dinikmati David. Lewat keterangan resminya, ia mengakui hal tersebut.

“Proses satu komando itu enak banget, jadi hasilnya terjaga sesuai kualitas yang gue mau. Meskipun banyak kerja samanya, semuanya satu komando dan itu berhasil dengan sangat baik,” ujar David.

Konon, David mengaku tidak punya ekspektasi apa-apa untuk album ini, karena apa yang diharapkannya untuk album ini sudah tercapai.

“Yang gue harapkan sudah terjadi semua, dalam arti gue sangat menikmati prosesnya yang lumayan panjang. Hasilnya sesuai harapan gue,” katanya.

Sejumlah nama yang didapuk menjadi kolaborator, antara lain: Vega Antares (gitar) dan Erikson Jayanto (kibor). Dua instrumen ini juga dirasa cukup dominan pada album ini.

Berbekal pendekatan musik yang sudah relatif familiar di telinga pendengar, lalu menjahitnya dengan gaya musik yang lebih segar untuk entitas barunya sebagai solois adalah langkah tepat yang dilakukan David Bayu untuk hadir lagi di telinga kita.

Dirilis tepat saat manggung di acara Synchronize Festival 2022, sepekan lalu, album ini hadir dalam format digital dan juga fisik, yang bisa kamu pesan melalui Demajors.

Bagi yang ingin langsung mendengarkan secara praktis, album Di Dalam Jiwa sudah bisa kamu dengarkan melalui berbagai layanan pemutar musik digital. Selamat mengapresiasi!***

Profil Penulis
Rayhadi Shadiq

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: