‘Cynical Narrative’, Medium Kritik Denny Lewat Seni Cetak Tinggi

MIKROFON.ID – Seni cetak tinggi adalah salah satu cetak dalam disiplin seni grafis. Banyak yang memilih media MDF (partikel padat hasil dari bubur kayu berupa lembaran seperti tripleks) karena relatif mudah ditemui dan murah. Selain itu, media MDF memungkinkan untuk dicukil dengan pisau cukil berbagai ukuran untuk menghasilkan plat cetak sebelum di-roll dengan tinta cetak (bahan untuk offset).

Media ini menjadi pilihan Denny dalam pameran “Cynical Narrative”. “Diary Project” dan “Dynamic of Mind” series, menjadi sebuah respons terhadap keadaan yang terjadi, yang bersinggungan dengan kita. Dalam karya Denny, hadir cuplikan-cuplikan dari sebuah fragmen, dialog, interaksi lingkungan, perkembangan teknologi, subyektifitas, kegamangan sosial dan alam pemikiran.

Kontroversi menjadi tawaran yang menarik untuk konsumsi publik. Munculnya bintang-bintang baru, politikus dadakan dalam peta media massa, fitnah-fitnah media yang terasa nyiyir, saling menjatuhkan lawan, provokator yang semakin menjadi dengan argumennya, dan terasa cuap-cuap kosong.

Keterasingan moral pun muncul dengan berkembangnya teknologi “one push to all access”, individu-individu yang mulai skeptik, narsis, individualis tidak peka dengan kondisi lingkungan sekitar, atau bahkan merusaknya, tanpa disadari semuanya itu bisa merusak generasi yang akan datang berikutnya.

Merujuk catatan kurator pameran oleh Ardiyanto, kencenderungan kuat adalah adanya keinginan kuat untuk bertutur sebanyak mungkin; seolah tumpah ruah, permainan ruang depan, tengah dan belakang yang terkadang jelas pembagiannya.

Namun, tidak sedikit melebur tanpa ada batasnya, seolah semua berebut agar mudah bertutur dalam rangkaian gambar. Sebuah kumpulan permasalahan dituangkan menjadi kompleks, banyak, serta saling tumpang tindih menyela, maupun menginterupsi semua ruang. Setiap jengkal area maupun ruang penuh sesak terisi.

“Hal ini menandai keinginan bermain serta berungkap yang melimpah ruah. Denny secara kritis menggugat, mempertanyakan, dengan kadar sinisnya menafsirkan berbagai kompleksitas perubahan zaman yang serba cepat. Televisi, gadget, computer, sibuk memampatkan ruang serta waktu,” kata Ardiyanto, beberapa waktu lalu.

Fenomena pengerdilan, pembelotan, hipokrit, tipu muslihat, dan bius iklan komersial maupun politis menjadi lebih populer ketimbang informasi yang lebih normatif, sakral, menyejukkan, konstruktif, yang berkontribusi pada berbagai permasalahan hidup kini. Manusia seolah menjadi badut atau pun boneka dari berbagai kepentingan kapitalisme dalam media massa baru.

Peran yang dibawakan sudah tidak netral, produktif, dan bahkan tidak berdaya terkooptasi teknologi infomasi dan perubahan yang cepat itu sendiri. Pandangan sinis Denny melahirkan opini tanpa tepi,  menafsir tanpa akhir suara sumbang, suara kosong, keterasingan, peneguhan individualisme yang semakin kokoh, simpati dan empati yang dikerdikal situasi.

“Cerita-cerita ini dibalut dengan tinta hitam yang kuat dan pekat. Semakin tegas antara dasaran putih serta tumpang tindih atas berbagai citraan serta subject matter di atas tiap kekaryaannya,” ujar Ardiyanto.

Keasyikan

Saat ini Denny menjadi guru di salah satu SMKN di Jakarta. Ia juga tetap menjalani profesi sebagai desainer dan illustrator lepas, berkarya gambar, lukisan cat air, serta cukilan MDF atau cetak tinggi ini.

Sejak menjalani semester 4 pendidikan seni rupa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Denny menemukan ketertarikannya pada mata kuliah seni grafis, terutama cetak tinggi dengan media MDF atau hardboard.

Awalnya, medium yang digunakan di masa perkuliahan memanfaatkan lino atau karet. Tetapi karena keterbatasan dana dan ukuran karet lino yang terbatas, akhirnya ia memakai MDF. Alasan lainnya juga untuk mendukung proses penciptaan karya.

Selain murah, MDF bisa ukuran besar dan lebih lunak ketika dicukil atau ditoreh. Meskipun kelemahannya jika terlalu lama dibiarkan, MDF bisa menjadi lembab dan tidak enak untuk dicukil. Keasyikan lainnya yang membuat ia lebih memilih cukil hardboard ini, banyak hal-hal di luar dugaan saat melihat hasilnya.

Prosesnya tentu memberi tantangan, mulai dari membuat sketsa langsung di MDF, lalu mencukilnya sedetail mungkin berdasarkan imajinasi. Setelah itu, bermain gelap terang dan berusaha untuk lebih teliti, karena sekali salah tidak bisa dihapus.

“Karya-karya yang saya buat biasanya hasil reduksi dari kejadian-kejadian sekeliling, berita, buku atau pergulatan yang ada pada diri, baik itu tentang sosial, politik, manusia dan individu lainnya. Pokoknya yang bisa menstimulus untuk berkarya. Beberapa kali alhamdulillah karya cetak tinggi saya dipamerkan di beberapa kota,” ujar Denny.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: