Cara Hellcity Mempertahankan Punk, Rilis Kaotik EP, Menuju Rebellion Fest

Hellcity. Foto: Grimloc Records dan Hellcity.

Di awal Agustus 2022, Hellcity resmi merilis Kaotik EP dengan sokongan dari Grimloc Records. Ada lima nomor yang memuntahkan pernyataan terkait isu sosial, politik, hingga sepak bola.

Frontman Hellcity, Axuy Leadbastard menceritakan, proses pembuatan lagu ini telah dimulai sejak 2020. Maka, terciptalah lagu Chaotic Asshole yang memuntahkan serapah bagi kekacauan penanganan pandemi yang ditunjukkan pemerintah.

Memasang jangkar dari posisi publik berdiri, target utama mereka tetaplah pemerintah. Para personel Hellcity mengingat kembali saat menjadi bagian kecil dari jutaan rakyat Indonesia, yang menggantungkan harapan hidup saat pandemi kepada sesama.

Mereka kadung murka dengan kebijakan penguasa yang terus menerus membuat sengsara. Ironisnya, lagu ini terus relevan dengan kondisi negara terkini setelah pandemi mereda. “Dengan sistem-sistem yang dijalankan pemerintah bukan membuat keadaan semakin kokoh, atau membuat rakyat maju. Pandemi ini memaksa ekonomi semakin surut. Tetapi pemerintah menjadikan keuntungan ekonomi yang semakin maju di atas, lalu mengerucut ke bawah. Dengan adanya cerminan hukum-hukum yang terlihat sekarang, pemerintah patut disalahkan,” kata Axuy.

Di nomor Hellcity, digaungkan pesan anti-fasisme di ranah sepak bola. Artwork sampul album CD Kaotik EP dikerjakan oleh Yowdi Santiar. Cover ini menangkap momen aksi panggung para personel dalam sorotan spotlight, menghidupkan kembali Hellcity dari napas yang sempat terengah dalam menjaga eksistensi band yang terlahir 11 tahun lalu ini.

Kaotik EP dirancang berbeda dengan rilisan Hellcity di album Hyper Bastard (2017), atau single Punks Not Dead di album kompilasi Bandung Thrash Metal, 2019. Unsur metal yang diboyong Dean dari Killer7 menambah keragaman agresifitas riff gitar Hellcity yang selama ini didominasi gaya streetpunk hasil serapan The Exploited hingga Disrupt.

“Kaotik EP ini beda banget. Dean punya karakter thrash metal. Jadi ada poin-poin metal masuk. Memang dari dulu kepengen gini, lebih enak. Ada Thrash punk, ketukan Discharge, The Exploited, ada masukan gitar Megadeth, Exodus. Sekarang kita bawa pengaruh dari Obituary, The Exploited, Motorhead,” ujarnya.

Hellcity. Foto: Grimloc Records dan Hellcity.

Rebellion Fest

Terbentuk di tahun 2011, Hellcity masih terus berupaya menjaga eksistensi band lewat jalur punk. Bongkar-pasang juga dialami band yang terlahir di Bandung selatan ini. Di awal, Axuy mengajak Tille (gitar), Ebonk (bas), dan Ardy (drum) dan meghasilkan album perdana Hyper Bastard.

Kemudian, posisi Ardy digantikan Emyr dan melahirkan single Punks Not Dead 2019 untuk album kompilasi Bandung Thrash Metal rilisan Grimloc Records. Akhirnya, single Chaotic Asshole dan Kaotik EP diisi Axuy, Dean (gitar), Kutuk (bas), dan Sunuy (drum), hingga kini.

Nama Hellcity rupanya masuk ke radar penyelenggara festival punk terbesar, Rebellion Fest, di Inggris. Terkoneksi lewat direct message (DM) Instagram, mereka pertama kali mendapat undangan manggung pada 2017.

Karena hal dan kendala lainnya, Hellcity menunda keberangkatannya di tahun tersebut. Selepas itu, Hellcity terus diundang di 2018 sampai di 2019. Tiap tahun, Rebellion Fest kembali melayangkan invitasinya supaya Hellcity bisa bergabung dengan band-band punk papan atas.

Pada 2019, penyelenggara Rebellion Fest sampai menawarkan mereka main di panggung utama. Tahun 2022, keberangkatan kembali tertunda karena kendala visa, dan kinerja yang kurang baik dari pengantar visa.

“Tadinya mau rilis Kaotik EP pulang dari Inggris. Promotor bilang 2023 harus jadi. Mungkin karena mereka suka atau penasaran live kami. Tapi dia juga ngerti Hellcity mencari pemasukan dari kolektif, tanpa harus menjual idealisme,” ujarnya.

Bagi Hellcity, berkarya dari hasil sokongan kolektif masih bisa diterapkan. Hellcity percaya dengan kekuatan pertemanan. Selepas rilis EP, mereka berencana tur Jawa-Bali-Lombok di akhir September 2022.

“Punk itu masih ada. Yang dilakukan Hellcity adalah percaya dengan kekuatan pertemanan. Andaikan bisa berangkat ke Inggris, kita akan menularkan cara yang sama ke semua. Di mana ada band lain ke luar kita bisa melakukan hal serupa. Udunan lagi, jual merchandise-nya, bikin acara fund raising. Dengan sponsor pertemanan bisa bikin acara. Satu komunitas, bikin acara bareng-bareng,” katanya.

Yang ia amati, punk masih menjaga regenerasi. Maka, Hellcity berupaya memelihara pola pikir yang bisa membantu menguatkan band-band punk baru.

“Buat ke depan, Hellcity bertujuan untuk tetap berkarya. Melahirkan karya-karya yang bisa didengar dan dinikmati sama temen-temen. Menemani mereka yang turun ke jalan, ikut memompa menentang penindasan yang terjadi di negara sekarang,” ujar Axuy.

Kaotik EP:

  1. INTRO
  2. HELLCITY
  3. BLINDING LIGHTS
  4. CHAOTIC ASSHOLE
  5. DRUNK AS FUCK

Producer: Lord Buche & Hellcity

Musics & lyirics written by Hellcity, Lord Buche Recorded at Fun House Recording Engineered by: Yoni Gayot

Mixed-masterered by: Yoni Gayot

Artwork: Yowdi Santiar

Graphic Design: Herry Sutresna.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: