Cara 4 Perempuan Bandung Lestarikan Batik: Riset, Pembinaan, Pameran, dan Buku

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

MIKROFON.ID – Secara rutin, empat dosen perempuan Ariesa Pandanwangi, Nuning Damayanti, Arleti Mochtar Apin, dan Belinda Sukapura Dewi, beranjak dari kelas untuk melakukan pengabdian masyarakat.

Sebagai akademisi, peneliti, sekaligus pelaku seni, mereka tak henti berkeliling kota hanya untuk menyokong perkembangan seni, terutama batik, di kalangan perajin.

Dedikasi mereka pada seni rupa terdokumentasikan melalui distribusi ilmu ini yang membuat nama keempatnya dikenal di berbagai kota.

Baca Juga: Menyingkap Potensi Folklor dalam Batik Bercerita

Pada 2019, mereka mendatangi sejumlah industri di Garut, Jogja, Jakarta, Cirebon, dan Pekalongan. Mereka mengenalkan sebuah potensi baru untuk mendongkrak industri batik di wilayah setempat, yakni Batik Bercerita.

Setiap industri dan perajin didorong untuk mengangkat kisah legendaris dari daerahnya. Pelatihan dan pembinaan aktif dilakukan, meski harus dilakukan secara virtual tatkala pandemi merangsek di awal 2020.

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

Kepadatan pertemuan yang digelar hybrid ini akhirnya menghasilkan pameran “Batik Bercerita Dari Nusantara,” yang dihelat di Galeri Thee Huis, Dago, Bandung, 14-21 September 2021.

Pameran ini merupakan hasil karya penelitian produk hilirisasi dari sentra industri kreatif dengan hibah dari Kemendikbudristek dan didukung Disparbud Jabar.

Pola penerapan riset sekaligus pendampingan kepada perajin batik ini tidak akan berhenti sampai di pameran ini. Mereka tengah mengolah pameran daring yang dirancang-gabung memanfaatkan animasi. Hasil riset, pembinaan, dan pameran ini akan direkam ke dalam serangkaian buku ajar.

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

“Kita tidak akan berhenti sampai sini. Jadi masih akan terus mendalami beberapa potensi untuk mengembangkan batik Nusantara,” tutur Ariesa Pandanwangi.

Melalui artikel yang dibuat pada Jumat, 24 September 2021 ini, mikrofon.id menyajikan biografi singkat Ariesa Pandanwangi, Nuning Damayanti,  Arleti Mochtar Apin, dan Belinda Sukapura Dewi.

Ariesa Pandanwangi

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

Ariesa Pandanwangi menyelesaikan pendidikan doktor di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, dan mengajar di Prodi Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha.

Ia aktif sebagai peneliti, narasumber, pemakalah di forum ilmiah, menulis di jurnal, pengabdian masyarakat ke berbagai pelosok nusantara dan memenuhi undangan ke luar negeri sebagai trainer batik lilin dingin.

Kerap berpameran di nusantara dan juga luar negeri. 

Ariesa merupakan founder Komunitas 22 Ibu, sebuah komunitas yang mensinergikan energi kreatif perempuan Indonesia dan juga membangun ASEDAS bersama rekan-rekannya. Beberapa bukunya sudah terbit terkait dengan pengembangan motif batik.

Pada tahun ini terpilih sebagai dosen berprestasi dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di program studinya, dan juga mendapat penghargaan dari Universitas Kristen Maranatha sebagai Dosen Terbaik Fakultas Seni Rupa dan Desain Bidang Penelitian Tahun 2021.

Nuning Yanti Damayanti

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

Nuning Damayanti adalah lulusan program magister di Jerman dan doktoralnya diperoleh dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Ia melanjutkan pendidikan ke Jerman selama 5 tahun atas beasiswa Goethe Institute, HBK Braunschweig, dan Deutche Auslandie Austausch Dienst (DAAD) dari Pemerintah Jerman.

Pada 1996 kembali ke Indonesia dan mengajar di FSRD ITB.

Kini sebagai staf pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Kerap dipercaya oleh institusinya untuk mengemban amanah sebagai pejabat struktural, juga sebagai asesor nasional.

Selain mengajar aktif melakukan kegiatan penelitian khususnya bidang seni rupa tradisi Indonesia, serta menjadi narasumber di berbagai seminar nasional dan internasional.

Aktivitas lainnya adalah memberi pelatihan dan workshop seni batik. Kesukaannya menulis dan traveling didukung dengan mengikuti pameran didalam maupun luar negeri, dan mempublikasikan Seni dan Budaya Indonesia dalam ajang kegiatan nasional juga internasional.

Arleti Mochtar Apin

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

Arleti Mochtar Apin mendalami pendidikan Desain Tekstil S1 dan S2 dari ITB. Mulai mengajar desain Tekstil dari tahun 1992 (STISI hingga sekarang di ITHB di bidang DKV).

Kegiatan sosial dalam bidang pendidikan, budaya dan sejarah di Bumidega. Juga menjadi peneliti dan pengamat budaya secara mandiri.

Aktif berpameran di dalam dan luar negeri. 

Karya lainnya adalah buku-buku yang sudah terbit terkait dengan pengembangan batik.

Belinda Sukapura Dewi

Para seniman perempuan yang juga dosen ini menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Ariesa Pandanwangi.

Belinda menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Ia juga bekerja sebagai staf pengajar di Program Studi Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Belinda aktif mengikuti pameran sejak di bangku kuliah di ITB. 

Aktifitasnya selain menjalankan Tridarma sebagai Dosen, juga bersinergi kreatif bersama perempuan dari lintas institusi melalui wadah Komunitas 22 Ibu.

Aktif meneliti, juga juga sebagai penulis, dan berkarya seni. Karyanya kerap dipamerkan di dalam dan luar negeri. Beberapa bukunya sudah terbit. Pada tahun ini terpilih sebagai dosen terbaik dalam bidang Pendidikan dan pengajaran dari Program Studi Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: