Biografi dan Jejak Karya Seniman Rini Maulina

Rini Maulina menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Indung Si Mata Holang’, di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, 3-24 September 2021. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

MIKROFON.ID – Rini Maulina menggelar pameran tunggal bertajuk “Indung Si Mata Holang,” di Griya Seni Popo Iskandar, Jalan Setiabudi, Bandung, 3-24 September 2021, meramaikan bulan seni, Bandung Art Month Ke-4 2021.

Kali ini, mikrofon.id menyajikan biografi singkat beserta perjalanan Rini Maulina berpameran, setidaknya hingga data ini diterima, Senin, 20 September 2021.

Rini Maulina lahir di Subang, 10 Februari 1981. Ibu 4 anak ini tinggal di Kota Bandung. Ia mengajar di Program Studi Desain Komunikasi Visual dan Magister Pascasarjana Universitas Komputer Indonesia.

Rini mulai belajar seni sejak masa kanak-kanak. Sejak saat itu, ia sering dipaksa menggambar dan melukis oleh ayahnya.

Hobi melukisnya mengarahkan pada keikutsertaan di kompetisi gambar anak, meskipun tidak pernah menang. Hingga pada SMP cita-cita menjadi seniman lukis muncul. Apalagi setelah mendapat dorongan dari guru seni rupa, yang menilai gambarnya lebih bagus dari nilai matematika.

Setelah lulus SMP, Rini bersekolah di SMK ICB mengambil jurusan tata boga, sambil menyambi menjadi buruh gambar lepas untuk tugas-tugas gambar teman-teman sekolah. Selepas SMK menempuh pendidikan seni lukis di Studio Seni Lukis Program Studi Seni Rupa FSRD ITB pada tahun 1999, dan melanjutkan studi di Program Studi Seni Rupa FSRD ITB pada Tahun 2009.

Pada 2016, ia mengikuti program Pegiat Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di New Zealand. Dari Tahun 2018 hingga tulisan ini ditayangkan, September 2021, ia tengah menempuh studi Doktor di Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain FSRD ITB.

Karya-karya seni yang dibuat terdiri dari lukisan, karya instalasi, video dan animasi. Rini sedang menggemari eksplorasi tema dari tradisi atau budaya masyarakat Sunda, dan sedang mengeksplorasi media dan teknik batik tulis.

Rini mulai berpameran sejak tahun 2004, meskipun tak bisa dibilang rajin. Pameran yang pernah diikuti hingga catatan ini diterima, Senin, 20 September 2021 yakni:

  1. NO NAME di Galeri Semarang;
  2. Behind the Line di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung;
  3. ArtJog 2011 di Taman Budaya Yogyakarta;
  4. Contemporary Archeology (Chapter II) di Galeri Sigiart, Jakarta;
  5. Natura Kultura, Bandung;
  6. All About Woman di Heritage, Jakarta;
  7. 21-Spirit of Woman Paramadina, Jakarta;
  8. Mural Wayfinding Subsektor Periklanan Festival Bekraf, Bandung;
  9. Pameran IAIF di OneSpace Gallery Hubei Wuhan, China;
  10. Printmaking and Paper Art Show/IPPAS, Jakarta,
  11. Jelajah Seni Nusantara, Cirebon;
  12. Fabel Nusantara di GSPI, Bandung;
  1. Batik Gutta Tamarind di Orbital Dago, Bandung;
  2. Festival Kertas Sejagat di Garasiseni10.com;
  3. Pameran Nusantara di Galeri Online GBSRI.com;
  4. Pameran Virtual Religiusitas Dalam Seni Rupa Kontemporer Nusantara di Garasiseni10.com;
  5. Festival Kembang Kertas Sejagat Mewangi Nusantara 2020 di Garasiseni10.com;
  6. Art Exhibition Reinterpretation of Mooi Indie di Galeri Trisakti, Jakarta;
  7. International Art Exhibition “Myths and Legend Stories from Indonesia” di Stockholm, Swedia dan di Prague, Republik Ceko;
  8. Pameran Seni Antarbangsa Bachok di Universiti Malaysia Kelantan;
  9. ASEDAS 2020 1st International Digital Art Exhibition, di website Asedas wixsite.com;
  10. Multi Frame #2 “Bringing Diversity into Harmony in Virtual World” di FSRD Universitas Sebelas Maret;
  11. International Academic on Contemporary Art and Design Exhibition (INACADE) 2021 di School of Design Binus University;

Rini Maulina juga pernah mendapatkan penghargaan 10 Besar karya terbaik di Pameran Visual Art Internasional Exhibition, Intercultural Academic Internasional Forum (IAIF) “The World Of Inocent” 2017, di One Space Gallery, Hubei, Wuhan China.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: