mikrofon.id

Bandung Lautan Art, Pameran Berisi Nyala Jejaring Penggerak Seni Jawa Barat

Pameran Bandung Lautan Art, 27 Maret sampai 4 April 2022, di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung memamerkan karya perupa senior alumni IKIP. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan.

MIKROFON.ID – Dari Pameran ‘Bandung Lautan Art’, bisa terlihat seni rupa Jawa Barat yang berpotensi bangkit selepas pandemi.

Bertempat di Galeri Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Bandung, perupa muda Seni Rupa UPI Bandung bersanding dengan pupuhu dan perupa senior alumni IKIP Bandung (AHIMSA), melakukan pameran bersama, mulai 27 Maret sampai 4 April 2022.

Menampilkan tema besar ‘Bandung Lautan Art,’ pameran Pupuhu Ke-2 berisi para alumni seni rupa IKIP (sekarang UPI) ini cukup menarik.

Para peserta pameran ini didominasi para guru dan dosen seni rupa. Mereka menjadi penyebar virus seni rupa kepada siswanya, sehingga melahirkan generasi seni rupa di berbagai pelosok kota dan kabupaten di Jawa Barat.

“Tidak sedikit murid-muridnya ini studi di kampus seni ternama selain di UPI sendiri. Tentunya seorang guru akan menjadi contoh untuk muridnya, guru harus digugu dan ditiru, ini ungkapan lama dalam wejangan Sunda,” kata Isa Perkasa, kurator Galeri Pusat Kebudayaan, melalui catatannya.

Ia mengungkapkan, pameran ini akan menjadi harapan para alumni seni rupa UPI karena para senimannya datang dari seluruh Jawa Barat.

Tentunya karya yang mengisi Pupuhu Ke-2 ini sangat beragam. Dengan semangat romantisme berkumpul kembali reuni karyanya terpajang pameran bersama, tentu saja pengalaman berkarya yang tersimpan lama akan melahirkan karya baru dengan semangat seni rupa yang masih menggelora.

Bagi Isa, Pameran Pupuhu ini memberikan energi pada seni rupa UPI. Seniman Pupuhu lahir dari generasi 80an dengan semangat seni rupa modernis, dengan gaya dan aliran seni lukis masih kental pada mereka.

“Keberagaman gaya dan ungkapan visual akan jadi ciri dalam pameran Pupuhu Ke-2. Harapan karya yang ditampilkan merupakan kebaruan dalam seni rupa modernis Bandung sehingga menjadi ‘Bandung Lautan Art’ yang sesungguhnya,” tuturnya.

Meski begitu, kebersamaan Pameran Pupuhu Ke-2 tentu tidak hanya sekadar pameran reuni. Para seniman berharap pameran ini akan menjadi kekuatan kebangkitan seni rupa di Bandung dan Jawa Barat, karena mereka yang terlibat merupakan simpul-simpul seni rupa yang terus hidup di daerah.

Isa berharap kekuatan Pupuhu akan makin terasa apabila tetap konsisten berkarya dan semangat menjalin jaringan sesama alumni yang tersebar di pelosok Jawa Barat.

“Semangat ini harus menjamur dan berkorbar seperti momentum Bandung Lautan Api, untuk kemudian diserap menjadi Lautan Seni Rupa, karena Bandung memberi energi untuk seni rupa di Jawa Barat,” ujarnya.

Karya peserta pameran bisa tertampung cukup banyak karena ruang galeri yang cukup luas dan representatif di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung. Karya-karya yang dipamerkan merupakan karya baru.

“Pameran ini tentunya akan menginspirasi para alumni bergabung lebih solid dan kuat. Saya yakni banyak sekali alumni yang masih konsisten dan memilih kesenimanan, sehingga pameran ini tidak hanya rutinitas tahunan, tetapi menjadi agenda melahirkan pupuhu seni rupa yang tangguh pada generasi selanjutnya,” kata Isa.

Kurator Pameran ‘Bandung Lautan Art’ Eddy Hermanto mengatakan, dalam pameran ini para perupa mengangkat seni lukis dengan muatan cukup beragam.

Mulai dari yang representasional, abstrak, bahkan bentuk-bentuk perupaan modern hingga wujud kekinian atau kontemporer.

Seniman yang terlibat menarasikan serta mengelaborasikan energi kreatifnya secara personal dan memadati makna subjek yang menyimpan berbagai tafsir.

Eddy menambahkan, peta perkembangan seni rupa masa kini diawali dengan konsep adanya suatu wilayah yang tidak lagi dibatasi oleh teritorial satu negara, melainkan sistem informasi dan komunikasi yang dapat menembus dinding geografis dan politik bahkan kehadirannya sebagai bentuk interpretasi skeptis.

“Seni rupa masa kini merujuk pada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai yang dianut modernism,” katanya.

Menurut Eddy, seni rupa masa kini merupakan sebuah konsep periodisasi yang berfungsi untuk menghubungkan munculnya bentuk-bentuk formal baru dalam sendi kultural, dengan kelahiran sebuah tipe kehidupan sosial dan sebuah orde ekonomi yang baru.

Apa saja yang secara eufismis, ia menambahkan, disebut sebagai modernisasi masyarakat pascaindustri atau masyarakat media digital dan visual, atau kapitalisme multinasional.

Ia menuturkan, rtos seni rupa “kekinian” sekonyong-konyong menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus, lokal, serta membuang yang universal.

“Fondasi intelektual dari seni rupa masa kini boleh jadi untuk menciptakan dunia yang lebih jadi untuk menciptakan dunia yang lebih baik seperti yang diutarakan oleh Jean Francois Lyotard, yang paling awal mengapungkan istilah “kekinian” atau postmodernisme. Itu hanya sekadar gambaran lumrah dan tidak asing. Namun, barangkali perlu juga untuk diungkit kembali dan semoga pameran ini menjadi tepat sasaran dan bermakna,” ujar Eddy.

Peserta Pameran

  1. AA Fauzie Falax
  2. Ace Kisna
  3. Ahmad Basit
  4. Aji Koswara
  5. Ardiyanto
  6. Arief Johari
  7. Ariesa Pandanwangi
  8. Asep Edy Mulyana
  9. Asep Wahyu
  10. Ananda Nur S.
  1. Bayu Widyaksana
  2. Christine Magdalena M.
  3. Dadang M. A.
  4. Dadang Sulaeman
  5. Deden Maulana
  6. Dedi Rasmita
  7. Deny Zoem
  8. Dewi Kusumowardhani
  9. Done Andriana
  10. Dian Kencana
  1. Ekananto Budi S.
  2. Enday Tarjo
  3. Erikson Manurung
  4. Eka Nur Lia Sk
  5. Emi Suryani
  6. Firda Faridah
  7. Faqih Faisal B.
  8. Fatih Jagad Raya
  9. Gugun Gunawan
  10. Helena Gayatri Putri
  1. Heni Mardiana
  2. Heri Santosa
  3. Heru Haerudin
  4. Hidayat
  5. Iip Ipan
  6. Ika Kurnia Mulyati
  7. Ipik Muharam
  8. Imam Suryantoko
  9. Jasa Sembiring
  10. Jenar Sukaningsih
  1. Maman T.
  2. Mahmud Nasrullah
  3. Meyhawati Yuyu Jr.
  4. Mina Sukana
  5. Reval Eka P.
  6. Muhamad Muhtar
  7. Muhammad Nashrullah
  8. Muammar Haikal Gibran
  9. Mia Syarief
  10. Oscar Sastra
  1. Nita Dewi
  2. Nanang Saifullah
  3. Niken Apriani
  4. Nunang E. Solihin
  5. Nurlela Affendi
  6. Inne Kaniawati
  7. Raden Surachman
  8. Rhyan Ikrasmara
  9. Ridwan Taufik
  10. Riki Nurdiansyah
  1. Rina Mariana
  2. Rita Gitawati
  3. Samsul Ridwan
  4. Selo Sumarsono
  5. Siti Sartika
  6. Sri Sulastri
  7. Suryatina/Isoer
  8. Suryadi
  9. Sri Nugroho
  10. Tri Karyono
  1. Teguh Indriana Pangestu
  2. Tubagus Erief S.
  3. Vidya Sukma N.
  4. Warli Haryana
  5. Wien K. Meilina Az
  6. Yoppy Yohana
  7. Yudhi Ruhyandi
  8. Yusa Widiana
  9. Yusuf Junaedi
  10. Yustine Carolies.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: