Album ‘Nyctophobia’ Inhell: Antrean Kecemasan, Oligarki, Hingga Kedigdayaan Cobra

Band grindcore punk asal Bandung, Inhell, merilis ulang album perintis mereka ‘Nyctophobia,’ 11 Januari 2022. Foto: Inhell.

MIKROFON.ID – Lama meraung dari timur Bandung, nama band Inhell telah dikenal sejak dibentuk pada 2013. Namun, butuh waktu delapan tahun untuk bisa menghasilkan rekaman pertama mereka lewat single “Perang Parang,” yang dilempar ke massa, medio 2018.

Selepas itu, sejumlah karya sebenarnya telah muncul berangsur, yang bisa membuka Inhell pada album perdana. Tetapi materi-materi lagu dibiarkan mengendap, tersimpan rapi bersama energi yang meragu.

Baru pada awal 2021, keyakinan Inhell mulai meletup. Materi delapan lagu mulai dibawa ke proses rekaman.

Kesiapan Dhei (vokal), Billy (gitar), Angga (bas), dan Dian (drum) rupanya begitu matang. Sampai-sampai hasil perekaman yang dilakukan live di studio terdengar apik, rapi, terkemas baik, menyusun tertib keseriusan peran dari masing-masing personel.

Selain menyisipkan track “intro” sebagai daya gedor pengenalan album perdana mereka, Inhell melansir “Berhala Pendosa”; “Semua Takut Cobra”; “Raksasa Penebar Phobia”; Bad Father In Law”; Berteman Kematian”; “Babi”; serta “Oligarki”.

Kedelapan nomor itu diluncurkan oleh Fight Fall Records dalam bentuk CD dan kaset pada Februari 2021 dengan tajuk “Phobia”.

Band grindcore punk asal Bandung, Inhell, merilis ulang album perintis mereka ‘Nyctophobia,’ 11 Januari 2022. Foto: Inhell.

Rupanya, kandungan album pertama Inhell ini mendapat perhatian Eben Burgerkill saat itu. Billy menyebut, sejumlah materi album sempat diperdengarkan Eben sebelum gitaris Burgerkill itu tutup usia.

“Waktu prosesnya, ada beberapa lagu yang memang disetorin dulu ke Pak Eben. Respons almarhum waktu itu bagus banget. Yang saya denger dari temen-temen, Pak Eben ini kalau denger yang jelek, butut, ya dibilang butut. Tapi ke Inhell sambutannya enak, baik. Makanya kita makin semanget,” ujar Billy, saat diwawancara pada Januari 2022.

Yang membuat personel Inhell makin semringah ketika Herry “Ucok” Sutresna menawarkan Inhell untuk merilis ulang album itu di Grimloc Records. Inhell tentu tak banyak berpikir untuk menyambut tawaran istimewa itu.

Namun, Inhell diminta menambah materi lagu. Akhirnya dipilih bonus track “Perang Parang” yang diambil dari single mereka, dua lagu cover dari band Phobia (“Death to False Punks”) dan Disrupt (“A Life is A Life”) serta ditambah satu lagu “Pusara” sebagai tribute bagi mendiang Eben BK.

Band grindcore punk asal Bandung, Inhell, merilis ulang album perintis mereka ‘Nyctophobia,’ 11 Januari 2022. Foto: Inhell.

Lagu

Menakar dominasi lirik dan musik berbalut nuansa gelap, Ucok menyematkan nama album baru menjadi “Nyctophobia”. Lirik yang ada di sebagian besar album itu memang menyerap perspektif Billy dan pengalaman hidupnya yang belakangan berselimut kalut.

Dalam “Raksasa Penebar Phobia”, Billy meneriakkan pikiran kacaunya pada situasi pandemi: rasa terpuruk beradu geram ketika di awal munculnya Covid-19 ia merasa lingkungan sekitar begitu keji pada anaknya yang dikucilkan karena diduga terpapar virus itu.

Sedangkan “Berteman Kematian” menjadi pengalaman “jelang-maut” paling mengerikan sesaat setelah Billy terkena serangan jantung dan harus mengadopsi dua ring pendukung hidup di dalam tubuhnya.

Jadwal menelan delapan butir obat dalam sekali minum, tiga kali sehari, rutin dilakukan, seakan malaikat maut terus menguntitnya. Meski akhirnya ia melawan phobia itu dengan menghentikan pengobatan.

“Pusara”, sebagai asupan baru di album “Nyctophobia” didapatnya dari “nyekar” harian di makam Eben Burgerkill. Bagi Billy, sosok Eben sangatlah penting bagi terwujudnya album Inhell dan komitmen untuk menjaga produktifitas karya di masa mendatang.

Dari deretan kegelapan “Nyctophobia” terselip satu lagu yang mewakili jalan hidup kaum bapak-bapak berjudul “Semua Takut Cobra”. Cobra menjadi diksi satire yang dipilih untuk mengompilasi cerita-cerita lelaki tangguh yang tak berkutik di hadapan para istri galak.

“Cobra ini tentang suami takut istri. Mau pejabat, preman, semua takut istri. Segarang apapun preman mabuk, kalau disuruh beli pampers sama istri pasti nurut,” kata Billy.

Band grindcore punk asal Bandung, Inhell, merilis ulang album perintis mereka ‘Nyctophobia,’ 11 Januari 2022. Foto: Inhell.

Peralihan

Derasnya ritme grindcore lewat efek gitar gahar atau teknik vokal menggeram tentu dihadirkan Inhell. Di awal penciptaan karya, Billy banyak terpengaruh oleh band punk semacam The Exploited dan Total Chaos.

Luapan hard core punk mengalir deras lewat riff gitar Billy, terpengaruh masa-masa kecintaannya pada band Ryker’s. Sedangkan drum yang diproyeksikan Dian kental dengan aroma death metal.

Album ini menjadi pengingat masa-masa awal death metal-hard core punk melebur menjadi grindcore. Namun, selepas album ini lahir, Inhell diyakini bakal terdengar beda. Sebab, posisi drummer akan digantikan oleh Gebeg, dengan sederet pengalamannya mengisi genre band yang beragam.

“Saat Inhell membutuhkan drummer, saya bersemangat. Rasa musik berubah itu pasti, diubah jadi grindcore yang raw. Beberapa beat diganti. Akan ada yang berubah pas live, saya pengen penikmatnya terus berkeringat. Ini akan jadi tantangan. Mudah-mudahan album berikutnya saya bisa berkontribusi,” ujar Gebeg.

Lewat rilisan Grimloc Records ini juga terdapat bonus poster “Nyctophobia” Inhell. Angga mengungkapkan, artwork poster yang juga menjadi cover CD mereka merupakan kompilasi fenomena yang terjadi belakangan ini.

Sosok di belakang berbagai tragedi dunia ini menghadirkan grafis berisi jurnalis yang dibunuh atas keterkaitan dengan keluarga Kerajaan Arab Saudi, Jamal Khashoggi, hingga pengusaha kapitalis pendiri Amazon, Jeff Bezos.

Di tengah puing sisa perang, ada potret rakyat yang terhimpit pertempuran, berdesakan di tengah foto-foto pemimpin dunia seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sampai Presiden RI Jokowi.

Angga mengatakan, artwork ini menampilkan betapa situasi dunia yang semakin hancur. Oligarki dan pengerucutan sistem terus menggerus dan merusak tatanan dunia.

Sedangkan pencitraan lagu “Semua Takut Cobra” direpresentasikan dengan kemunculan figur pahlawan super Wonder Woman versi Gal Gadot. Angga menuturkan, artwork ini dieksekusi dengan rapi berkat karya Herry “Ucok” Sutresna.

Band grindcore punk asal Bandung, Inhell, merilis ulang album perintis mereka ‘Nyctophobia,’ 11 Januari 2022. Foto: Inhell.

Ketertarikan Ucok pada musik yang dibawakan Inhell karena cenderung beda dengan kebanyakan band metal pada umumnya. Karakter yang muncul mencuatkan Inhell lewat pengayaan dan vibe yang berbeda.

“Tradisi metal Bandung itu metal core, brutal death metal, chaotic hard core. Gaya Inhell ini agak jarang. Di kota lain sih masih ada. Dia mainkan death metal dengan pengayaan skill punk. Metal enggak rumit, dengan riff sederhana, atau paling tidak jadi konsumsi zaman dulu era Fear Factory,” katanya.

Karena Inhell mengonsumsi grindcore, mereka memainkan musiknya sesuai tradisinya: beradu lirik tentang perang, pemerintah, ketimpangan ekonomi, atau bagaimana Inhell menyampaikan pikirannya lewat karya.

“Grindcore Inhell ini termasuk jarang. Tergolong minoritas dan enggak neko-neko. Delivery-nya cocok dan dapat diterima. Saya menikmati banget album ini. Ada keragaman di isi kepala. Bagaimana mereka ‘aing pisan’ lalu kerasa sama kita,” tutur Ucok.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: