Album Kompilasi ‘Dasawarsa Kebisingan’, Cara Musisi Berdonasi di Tengah Resesi

MIKROFON.ID – Tahun ini, Grimloc Records telah menyentuh dasawarsa di ranah musik bawah tanah Kota Bandung. Rencananya, Grimloc akan melampiaskan kepuasan perjalanan panjang mereka dengan acara besar, Grimloc Fest, pada Juni 2020 lalu.

Namun, pandemi membubarkan momentum untuk berkumpul bersama ini. Padahal, acara tersebut akan menjadi event monumental dengan melebur fans, komunitas, band, hingga lini penyokong industri kecil berlabel independen lainnya.

Kebetulan, Grimloc tengah bergerak bersama jejaring komunitas lainnya, terutama dari sektor musik, untuk menjaga keberlanjutan hidup warga kurang mampu sejak pandemi menutup ruang ekonomi masyarakat.

Bersama Solidaritas Sosial Bandung (SSB), komunitas jejaring Grimloc membuka dapur umum, menyalurkan beragam bantuan, hingga bertani di lahan urban untuk menjadi penyokong ketahanan pangan masa depan.

Tanpa seremoni “gunting pita”, SSB bergegas membuka dapur umum ketika pemerintah masih sibuk merancang administrasi berjenjang penanganan virus Corona di awal pandemi.

Kini, di saat kasus COVID-19 dianggap menurun, serta pemerintah dan aparat melonggarkan sanksi dan malah ikut berkerumun, unit dapur umum SSB masih terus memasak bagi warga sekitar yang membutuhkan.

Donasi

Dengan kondisi itu, salah seorang pendiri Grimloc Records, Herry “Ucok” Sutresna kemudian mengalihkan rencana dengan merancang album kompilasi. Isinya tentu saja musisi dan band yang selama ini merilis karyanya dan berencana meluncurkan lagu-lagunya lewat Grimloc.

Ternyata, ada lebih dari 20 musisi yang ingin terlibat di dalam album kompilasi “Dasawarsa Kebisingan”. Mereka pun memahami niat awal album dilansir dengan hasil keuntungan akan dilebur menjadi macam-macam donasi bagi warga yang terkena dampak pandemi.

Dari hasil karya yang terkumpul dari batas tenggat, ada 16 band dan musisi yang akhirnya menyetor lagu terbaik untuk “Dasawarsa Kebisingan”. Meski album ini mengusung misi donasi, musisi dan band tetap serius menyajikan kualitas karya papan atas demi “Dasawarsa Kebisingan”.

Yang menjadikan album ini istimewa, karya dari 16 band ini adalah lagu yang belum dirilis, atau kalaupun pernah hanya dirilis secara terbatas. Kontribusi dari band yang terlibat merupakan cara merayakan eksistensi Grimloc Records yang tahun ini masih lantang di usia 10 tahun.

Ucok menuturkan, keuntungan dari hasil penjualan album kompilasi “Dasawarsa Kebisingan” Grimloc Records ini bisa menyediakan beras hingga 5 ton, kebutuhan alat berkebun, dan memasok kebutuhan14 posko SSB Bandung Raya.

Target keuntungan album 10 tahun Grimloc Records ini ditujukan bagi warga berkebutuhan yang terdampak pandemi COVID-19 karena kondisi terkini masih belum membaik. Bagi siapapun yang ingin mendukung karya donasi ini bisa langsung menuju Grimloc Store.

Suntikan 16 karya segar ini terhimpun dari musisi beragam garis musik yang selama ini banyak mengisi speaker dan panggung sidestream. Ada SSSLOTHHH, Taring, Ametis, Wreck, Kidsway, Eyefeelsix, Birds of the Coming Storm, Forgotten, Eyes of War, Jeruji, Mesin Tempur, Krowbar, Taruk, Goredath, Koil, hingga Flukeminimix.

“Kayaknya saya beruntung berada di Bandung, yang dengan segala perbedaan tetapi atas nama kemanusiaan semua kawan ikut turun tangan. Musisi yang berkontribusi menyadari misi donasi sejak awal, dan mereka enggak mempertimbangkan dua kali untuk segera terlibat di dalam album ini,” ujar Ucok.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: