Album Emotional Humanoid, Materi Tempur Stroke Melawan Kegilaan

Merentang waktu sejak dibentuk pada 2013, unit grindcore asal Bandung, Stroke, melahirkan album debutnya, Emotional Humanoid lewat Disaster Records, 9 September 2022.

Diperkuat Hilman (vokal), Rian (gitar), Adit Sadut, (Bass), dan Iqqy (drum), konstruksi karya musik Stroke yang disalurkan lewat Emotional Humanoid mulai dijejali dengan unsur yang mengarah powerviolence.

Pertimbangan pilihan pada powerviolence ini tak hanya dari komposisi lagu. Dalam album ini, mereka memadatkan raungan musik dengan narasi sosial-politik yang begitu menggemuruh.

Ledakan amarah diluapkan kuartet ini menakar situasi negara sebentuk dari apa yang publik lihat, dengar, dan rasakan oleh seluruh indera.

“Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan? Tentu saja kegilaan terus-menerus selayak jalan menuju kehancuran. Sebuah panduan praktis untuk merespons dan merayakan ketidakwarasan yang terjadi setiap waktu,” kata Stroke, melalui rilis yang diterima mikrofon.id.

Melalui album debut ini, mereka memperkenalkan Stroke sebagai medium peletup akumulasi kolektif atas kekecewaan, kemarahan, hingga kemuakan yang dileburkan, ditempa, dan disiapkan merupakan amunisi.

Maka, Emotional Human adalah senapan serbu semi-auto. Keputusan untuk meliar dan melepaskan diri dari kekangan atas apa yang dibentuk realita, misalnya, begitu tersurat telanjang dalam lagu “Mendadak Brutal.”

Adapun track “Tirani” ditujukan kepada mereka yang duduk di sofa empuk; dengan satu telunjuk yang bisa meluluhlantakkan; dan “predator” yang siap memangsa dan membantai atas instruksi telunjuk tersebut.

Para tiran hanya angkat tangan sembari menyeringai, seperti tergerindra dalam track “Teror Belantara”: ketika asap kebakaran hutan dan lahan menyerang rongga paru-paru saudara kita di Sumatera dan Kalimantan, hingga menginvasi negeri tetangga.

Tangisan dan penderitaan tergambar jelas di lagu “Pribumi Tiri”. Sementara “Wahana Baru” dan “114(2)” adalah kegilaan lainnya.

 

Neraka Hari Ini

Stroke melihat invasi dari substansi ilegal baru tengah menguasai pasar gelap. Dan penanganan itu hanya isapan jempol semata. Para junkie berujung menjadi pesakitan di dalam jeruji. Yang tetap tersenyum lebar: polisi.

Bagi Stroke, kini film thriller tidak dibutuhkan lagi. Cukup nyalakan televisi dan pilih program berita manapun. Pembunuhan, penganiayaan, pelecehan juga pemerkosaan terjadi setiap hari. “So we’re ‘Living Next Door to Hell’, indeed,” begitu Stroke menggambarkan situasinya.

Namun di tengah kegelapan yang mengepung tadi, mereka meyakini bahwa selalu ada nyala api walau bertumpu pada satu lilin. Cahaya harapan ini tercermin lewat lagu “Last Man Standing”. Sebagai upaya memompa diri untuk mencegah kegilaan-kegilaan yang siap menular, Stroke bakal memompa pendengarnya dengan nomor “Educate Yourself.”

Senapan serbu lengkap dengan amunisi dari track yang disajikan bernama emosi itu siap dikirim untuk perang. “Perang melawan siapa? Tentu saja, tidak lain tidak bukan: Ketidakwarasan,” kata Stroke.

 

Tradisi Grindcore

Mereka memahami bahwa Stroke terlahir di negara dengan populasi grindcore terbesar di Asia Tenggara. Maka, Stroke berupaya untuk menarik kembali genre yang mereka usung ke titik tradisional: masa-masa grindcore ditemukan dengan menolak keindahan musik itu sendiri, dan menggenggam teguh warisan From Enslavement To Obliteration milik Napalm Death dan Helvete milik Nasum.

Stroke terbentuk di Bandung pada 2013 dengan formasi Rian (gitar), Iqqy (drum), dan Hilman (vokal). Mereka merancang band dengan serangan sonik tanpa ampun lewat ramuan lirik sosial-politik dan rutinitas banal sehari-hari.

Dengan penambahan Hilmy pada gitar dan Syahrul pada bass, Stroke merilis debut Demo Promo di penghujung 2015. Demo ini diperkuat tiga embrio ganas: Helly Si Anjing, Mendadak Brutal, dan Prode A Thor. Demo dibagikan secara gratis sebanyak 500 copy.

Tidak berselang lama, demo tersebut dirilis ulang sebanyak 200 copy dengan penambahan track baru berjudul Tirani. Di tahun yang sama, mereka menjalankan fusi dalam sebuah split album bersama unit thrash metal asal Bandung Barat, Walker, dan dirilis oleh Hellprint.

Dalam perjalanan karier band, mereka telah menjajal banyak gigs underground seperti Bandung Grindfest hingga festival sekaliber Hellprint dan Sonic Fair.

Semua musik dan lirik dibuat oleh Stroke, kecuali lirik dari lagu 114(2) dan Living Next Door To Hell dibuat oleh Uba kepal. Di kedua lagu tersebut Stroke berkolaborasi dengan Uba Kepal dan Lord Butche dari The Cruel.

 

Emotional Humanoid

Logo, cover art and layout dibuat oleh @sarcofagore;

Proses rekaman album direkam di Yeah Studio dan Pohaci Studio;

Engineered oleh Bimo dan Ibrahim Adi;

Mixed and Mastered oleh The Pandoralab.

 

Stroke

Kenali lebih detail Stroke melalui:

Email: strokegrindcore@gmail.com

Facebook Page: Stroke Grind

Instagram: @strokegrind

Youtube: Stroke Grindcore

Bandcamp: Stroke Grindcore

Reverbnation: STROKE.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: