Album “Devastation” Iron Voltage dan Bangkitnya Old School Thrash Metal

Band thrash metal asal Bandung, Iron Voltage, meluncurkan album perdana “Devastation,” Kamis, 1 Desember 2022. Iron Voltage mencoba menaikkan kembali volume thrash metal oldskool yang belakangan seolah senyap dari rotasi genre di ranah musik ekstrim tanah air.

Album Devastation menceritakan masa-masa gelap di tengah perang dunia ke-2 terjadi. Begitu banyak kehancuran dan korban jiwa yang berjatuhan.

Masa itu merupakan era di mana hasrat para pemimpin dunia membuncah untuk berkuasa dengan menyodorkan pion-pion budak perang. Prajurit maju bertempur membawa delusi nasionalisme, menanggalkan rasa iba dan kemanusiaan: membunuh atau dibunuh.

Di medan perang, jutaan nyawa manusia dipaksa menerima bencana yang diciptakan manusia, menjadi tumbal dari kegilaan lompatan peluru hingga dentuman amunisi.

Pertempuran itu direkonstruksi dari masa ke masa, dengan gaya berbeda. Komplotan penguasa kini beroperasi “peperangan senyap” dengan tujuan sama: kepentingan kepuasan batin perorangan dan kelompok meski dengan cara keji.

Latar cerita itu tertuang dalam lirik yang dibalut format fiksi, dan dituangkan secara singkat di album yang bermakna kehancuran, “Devastation.”

Foto: Iron Voltage/Gawski.

Materi Lagu

Tidak ada perbedaan dari demo dan single sebelumnya dari segi konsep dan aransemen karena lagu sebelumnya pun masuk dalam album Devastation. Iron Voltage menggempur ruang sonik dengan kerapatan riff dan rentetan lirik tajam dari vokal berteknik reverb.

Dalam proses album ini, sektor vokal dan instrumen direkam memanfaatkan home-recording, sementara sisipan drum diambil di Studio Funhouse Bandung dengan bantuan mixing dan mastering oleh Amos Wp (Twenty DB).

Prosesnya memakan waktu hampir setahun penuh karena banyak perubahan di riff dan otak-atik solo.

Iron Voltage tak ingin cepat puas. Mereka beberapa kali melakukan take ulang. Rancangan karakter gitar terus diburu hingga menghabiskan tiga kali rekaman untuk 10 lagu yang mereka siapkan.

Tahapan panjang itupun masih ditambah satu kali take ulang setelah penggantian jenis senar ukuran 0,10 menjadi ukuran 0,9. Setelah dirasa cukup puas, mereka dirundung sial.

Hasil seluruh proses mixing seketika musnah akibat file yang tak sengaja terhapus saat komputer berisi data materi mereka diformat ulang.

“Terpaksa harus mengerjakan semuanya dari awal karena belum ter-back up ke device lain. Untungnya file drum masih ada. Dan terpaksa gitar, bas, vokal take-ulang. Itu yang memakan proses cukup lama. Tadinya akan rilis awal tahun dan akhirnya mundur di akhir tahun 2022,” kata Yowdi, mewakili Iron Voltage.

Foto: Iron Voltage/Gawski.

Artwork

Meski diisi oleh sejumlah personel yang juga ilustrator, Yowdi, Geri, dan Reyga, mereka menyerahkan display estetik sampul album kepada Velio Josto. Nama ilustrator Italia ini begitu santer lewat karya-karyanya seperti sampul album band kenamaan Vulture, Alkoholizer, Cruel Force, hingga Enforcer.

Velio Josto dikagumi karena basis karya cat minyak di atas kanvasnya. Masterwork ini menjadi pengaruh kuat bagi reputasi band yang mempercayakan sampul album terbaik pada Velio.

“Dan mungkin untuk eksposur juga karena portofolio Velio yang sudah tidak diragukan. Dia mengerjakan sampul album band Vulture, Enforcer, Cruel Force dan banyak lagi. Tadinya kami ingin mengerjakannya sendiri, karena kebetulan 3 personil Iron Voltage adalah seorang ilustrator. Tapi kami sepakat lebih baik dikerjakan oleh Velio Josto, karena pada saat itu kami lebih fokus menciptakan musik. Kami tinggal ngasih sketsa yang belum jadi meski udah jadi konsep,” ujar Yowdi.

Foto: Iron Voltage/Gawski.

Demo

Dibentuk pada 2016, Yowdi, Edy, dan Fahmi mulai merancang konsep musik yang lumayan kental merespons karya-karya besar thrash oldskool mulai Metallica era “Kill’ Em All” hingga “And Justice For All,” Exodus era awal, sisipan groovy dari Pantera bercampur Cro-Mags dan Leeway, hingga melebur unsur OSDM dari Obituary, Entombed, sampai Dismember.

Bersama kedatangan tambahan personel Reyga dan Eka dari band GASM untuk mengisi posisi gitar dan bas, Iron Voltage mulai merilis demo yang bertajuk “Demo 2020,” berisi 3 track yang dirilis dalam format fisik dan digital.

Produksi 100 keping CD dibagi dan disebar cuma-cuma dalam tempo seminggu. Meluasnya distribusi materi berformat demo ini banyak direspons hingga meluas ke berbagai akun sosial media dan mengarahkan mereka ke sejumlah gigs. Pada April 2021, Iron Voltage merilis single “Immortal Crush” dalam format video clip di kanal Youtube.

“Di luar ekpektasi kami, ternyata banyak yang merespons demo dan single kami dengan sangat positif, sehingga kami lebih bersemangat untuk menciptakan karya-karya baru untuk bisa lebih dinikmati oleh pendengar,” tutur Yowdi.

Foto: Iron Voltage/Gawski.

Tradisi Thrash Metal

Di awal lahirnya Iron Voltage, Yowdi cukup kelimpungan mencari teman satu selera musik. Ketika teman-teman sekumpulan sedang asyik menyelami tren genre popular sekeliling pengaruh Good Charlotte hingga Avenged Sevenfold, ia tetap mengeksplorasi Power Trip, Megadeth, Metallica, dan sebentuknya.

Mengenalkan thrash metal di tengah kepungan tren genre populer lain di medio 2016 sempat dinilai sebagai pertaruhan lemah Iron Voltage dalam berkarier musik. Subgenre heavy metal yang mereka tawarkan ini hanya dianggap pemasok romantisme generasi penyambut fase awal asam urat, kolesterol, diabetes, hingga tekanan biaya kuliah anak.

“Akhirnya kita main aja, enggak tahu bakal ada yang merespons baik. Main band hanya karena mengidolakan sesuatu. Dave Mustayne dari dulu. Tetapi susah direalisasikan karena belum ketemu teman sefrekuensi,” katanya.

Rupanya, suntikan Exodus, Power Trip, Megadeth, hingga Metallica era “Kill’ Em All” hingga “And Justice For All,” di tubuh karya Iron Voltage direspons ramai metalhead muda di arena moshpit. Reputasi Iron Voltage pun santer melambung. Produksi 90 kaos merchandise ludes sekejap.

“Anehnya, 80 persen kami banyak main di event hardcore, dari 2020. Hampir dibilang jarang main di event thrash metal. Kalau enggak acara grindcore, punk. Responsnya malah baik. Feedback dari pemain band lama juga bagus. Mereka mengingat masa muda mereka,” katanya.

Foto: Iron Voltage/Gawski.

Iron Voltage ingin musik mereka tidak hanya didengarkan oleh kalangan yang menyukai thrash semata. Lebih jauh lagi, karya yang dibentuk berupaya menjangkau eargasm dari latar genre apapun.

“Kami ingin spreading musik kami seluas mungkin tanpa terkecuali, dan sepertinya kami berhasil karena kami bisa masuk ke berbagai macam skena, bermain di event hardcore, death metal, grindcore, hingga rock,” katanya.

Panggung demi panggung mengundang Iron Voltage, mulai dari sederet gigs kolektif ruang kecil, acara-acara komunitas, hingga Amplifier Memanas pada 2022, Slayer Night (2022), dan Rock in Solo (2022).

Eksistensi Iron Voltage merupakan gambaran bahwa thrash metal tidak akan pernah mati.  Karena akar musik thrash merentang dari musik rock atau heavy metal, maka Iron Voltage tidak akan melupakan warisan yang telah diturunkan oleh The Beatles, Black Sabbath, Led Zeppelin dan Motorhead untuk generasi generasi selanjutnya.

“Thrash era 80-90an itu istimewa. Generasi tua ingin mendengarkan musik itu di masa sekarang. Sementara generasi muda siap meneruskan dan meliarkan di masa mendatang. Setidaknya suasana ini yang kita lihat di setiap manggung, di banyak daerah. Iron Voltage hadir untuk bring back memory dan mengembalikan thrash old school!” kata Yowdi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: