mikrofon.id

Catatan Sunaryo pada ‘Sumarah,’ Pameran Seni Kaligrafi China Tjutju Widjaya

Maestro kaligrafi China asal Bandung, Tjutju Widjaya menyelenggarakan pameran tunggal berjudul ‘Sumarah’, di Selasar Sunaryo Art Space. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

MIKROFON.ID – Maestro kaligrafi China asal Bandung, Tjutju Widjaya menyelenggarakan pameran tunggal berjudul “Sumarah”, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 3-29 Agustus 2021.

Ada catatan khusus dari Direktur Selasar Sunaryo Art Space, Sunaryo, hingga mempertimbangkan karya Tjutju Widjaya dipamerkan di SSAS.

Sunaryo menjadi salah seorang saksi proses perjalanan seni Tjutju. Awalnya, ia mengenal Bu Tjutu sebagai pebisnis, sampai beberapa tahun kemudian mulai berkiprah di bidang seni rupa.

Jejak studi Tjutju, bahkan menerima gelar doktor di bidang seni rupa dari Institut Teknologi Bandung di usia 79 tahun, yang membuat Sunaryo menaruh hormat.

“Bahkan, di usia yang tidak muda lagi Bu Tjutju duduk di bangku kuliah dan meraih gelar sarjana seni dari Universitas Kristen Maranatha. Tidak cukup di situ, Bu Tjutju melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana hingga meraih gelar doktor di bidang seni rupa dari Institut Teknologi Bandung, saat itu usianya sudah menginjak 79 tahun,” tutur Sunaryo.

Sejalan dengan meningkatnya jenjang pendidikan, Bu Tjutju aktif berkarya dan berpameran. Tahun lalu, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menerima ajuan program pameran tunggal Tjutju Widjaja. Sunaryo langsung menyambut gembira tawaran itu.

“Dalam ajuan program itu, Bu Tjutju akan menampilkan karya lukisan berlanggam abstrak, yang dikembangkannya dari teknik kaligrafi tradisi Cina. Saya menilai ajuan ini menarik, lalu bersama Staf SSAS kami mulai memproses persiapan pamerannya,” ujar maestro seni rupa itu.

Sunaryo bergabung langsung saat Tjutju melakukan penciptaan karya yang menarik, begitupula karya yang dihasilkannya.

Menurut dia, dengan goresan kuas besar, Tjutju menampilkan satu dua sampai tiga lapisan bukan atas pertimbangan teknik dan artistik saja, tetapi mengandung simbol-simbol tentang Tjutju Widjaja, antara ketekunan dan konsistensi proses kehidupan.

Makna kehidupan dalam mencari harmoni, pertimbangan energi semesta. Hal inilah yang menjadikan keunikan sapuan-sapuan kuasnya yang tidak lepas dari filosofi tradisi kaligrafi Cina,-huruf abjad Cina yang terdiri dari gambar-gambar sampai ribuan jenis dan rumit.

“Saya berkesan, kefasihan Bu Tjutju mengenali karakter media, berjalan seiring dengan kepekaannya pada konsep pemikiran. Sebagai pelukis ia berkarya tidak semata berangkat dari halhal teknis. Selain lahir dari intuisi dan sensibilitas motorik, simbol-simbol alam yang divisualkannya membersitkan pula nilai-nilai spritualitas,” tutur Sunaryo.

Ia menambahkan, karya-karya Tjutju pada konteks seni kontemporer sebagai salah satu kecenderungan dalam menarasikan kehidupan, mulai dari masalah sosial politik, konsumerisme, masalah lingkungan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Maestro kaligrafi China asal Bandung, Tjutju Widjaya menyelenggarakan pameran tunggal berjudul ‘Sumarah’, di Selasar Sunaryo Art Space. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Dalam menikmati lukisan-lukisan Tjutju yang dipajang di Bale Tonggoh SSAS, kata Sunaryo, penikmat seni diajak memasuki sejumlah catatan visual yang merefleksikan sikap batin dan pemikirannya perihal hidup dan nilai-nilai kehidupan.

“Tentu semua tidak terjadi begitu saja. Karya-karya Bu Tjutju, seumpama buah, berasal dari batang dan dahan pohon yang tumbuh dalam kesabaran. Menyandarkan ketekunan dan konsistensinya pada proses yang diajarkan alam; ke atas ia berpucuk ke bawah ia berakar,” tuturnya.

Ketua Umum Perkumpulan Kaligrafi Indonesia (Indonesia Calligraphers Association) Steve Yenadhira menambahkan, dalam kebudayaan China, seni kaligrafi China merupakan salah satu dari tiga kesempurnaan.

Dua kesempurnaan lainnya adalah seni lukis China dan puisi. Bentuk kebudayaan ini telah menyebar ke seluruh dunia seiring dengan diaspora bangsa Tionghoa, termasuk Indonesia. Eksistensi seni kaligrafi China di Indonesia mulai kembali dikenal setelah mengalami tekanan selama lebih dari 30 tahun pada masa pemerintahan Orde Baru.

“Saya dan Tjutju Widjaja sama-sama tergabung di dalam Perkumpulan Kaligrafi Indonesia. Tjutju menjabat sebagai Ketua Kehormatan dalam komunitas yang beranggotakan 120 seniman kaligrafi dari seluruh wilayah Indonesia ini,” ujar Steve.

Komunitas ini aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam pameran di dalam dan luar negeri. Di antaranya, The 21st Century Maritime Silk Road Art Tour-China ASEAN Cultural Exchange Year Painting and Calligraphy Exhibition (2014) dan Pameran Seni Lukis dan Chinese Kaligrafi Memperingati 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (2015).

Karya karya Tjutju merupakan hasil dari riset akademik yang berasal dari kecintaanya terhadap seni kaligrafi dan eksistensi budaya Tionghoa di Indonesia pada umumnya, yang kemudian dipadukan dengan inovasi Tjutju sebagai seniman kontemporer.

Pameran ini dapat dinilai sebagai sebuah kontribusi besar bagi dunia seni kaligrafi China di Indonesia.

“Saya telah mengenal Tjutju lebih dari 15 tahun. Di mata saya, Tjutju adalah seorang seniman dan intelektual yang produktif, memiliki semangat untuk terus belajar dan sangat aktif. Karya-karya dalam pameran tunggalnya kali ini adalah buktinya,” tutur Steve.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: