10 Perupa Respons “Dystopian Diffraction: Sign Of Warning” di Selasar Sunaryo

Selasar Sunaryo Art Space menjadi tempat dimulainya rangkaian Bandung Photography Triennale bertema “Future is Now: Skepticism, New Reality and Infinities,” tahun ini. Menempati Bale Tonggoh SSAS, pameran dihelat 8 September hingga 8 Oktober 2022.

Dari lima galeri penyelenggara, Selasar Sunaryo menghadirkan 10 seniman dari Indonesia, Polandia, Amerika Serikat, Singapura, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan, yang menuangkan karya dari sub tema “Dystopian Diffraction: Sign Of Warning.”

Menyambut para pengunjung, karya Utami Dewi Godjali menjadi wahana istimewa. Ia menempatkan karya seri Virtual Insanity berukuran 40x40x40 sentimeter dan 25 x 82 x135 sentimeter di dalam kotak stainless.

Utami Dewi Godjali menjelajahi aspek resiprokal dan voyeuris dari citra. Realitas baru hari ini seperti ilusi optik yang tak terbatas. Perkembangan teknologi memaksa kita, manusia, untuk mengalami lipatan realitas, yang bisa baik atau buruk.

Instalasi ini memantik: Apakah ini benar-benar kenyataan yang kita inginkan dan butuhkan? Atau akankah kenyataan ini membuat kita manusia terkunci dalam ilusi realitas yang terbatas?

Karya Agus Heru Setiawan menunjukkan jasad dari berbagai makhluk hidup berukuran kecil. Melalui karya Museum of Dead Fishes and Sea Creatures, ia seperti sedang membekukan kefanaan.

Bagi dia, masa depan adalah efek dari musabab hari ini. Karya ini menggambarkan sebuah tragedi imajiner di masa depan yang disebabkan oleh ulah manusia sebagai agen kematian. Di saat tangkapan kamera merekam kehidupan yang mulai menghilang di bumi, bentuk tubuh organik menampakkan diri menjadi objek indah yang dihadapi kematian itu.

Perupa Polandia, Anna Kedzoria, membawa serta karya Herbarium From the Edge yang juga menampilkan citra organik. Ia menampilkan tanaman khas dari sebuah daerah aliran sungai.

Dalam bahasa Polandia, “sungai” mewakili feminin, sedangkan “laut” merepresentasikan maskulin. Bagian penting dari proyek ini adalah herbarium tanaman yang berhasil menciptakan ekosistem di tepi sungai, di celah-celah sabuk penyangga beton.

Di Polandia, baru-baru ini sabuk tersebut ditukar dengan sistem yang dianggap lebih ramah lingkungan, namun habitat lama telah dihancurkan sepenuhnya.

Air mengalir terus, tapi tubuh punah. Fotografi menghadirkan yang sudah tiada.

Pameran “Dystopian Diffraction: Sign Of Warning,” Bandung Photography Triennale, di Bale Tonggoh SSAS, 8 September hingga 8 Oktober 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Hari ‘Pochang’ Krisnadi mengangkat tema tentang tubuh lewat karya The Unspoken Distress. Ia menampilkan seorang pemeran dengan pose dan komposisi yang mengingatkan pada karya seni di masa lalu.

Melalui tautan tersebut, ia sedang memanggil dimensi waktu, yang menghubungkan kekinian dan masa lalu. Karya-karya Hary Pochang menimbulkan ekspresi dari sisi tersembunyi kemanusiaan dalam kaitannya dengan media sosial.

Tujuan orang bertautan di dalam media sosial dihadapkan dengan rasa takut ditinggalkan. Kekuatiran itu mengarahkan manusia untuk mengikuti tren secara membabi buta, dan seringkali lupa untuk memelihara jiwa dan akhirnya kehilangan diri sendiri dalam lautan kekacauan.

Apa yang dituju sebagai keinginan untuk terhubung di dalam alam maya malah membawa ke dalam situasi putus asa dalam sunyi.

Dari perupa Amerika Serikat, Jim Ramer mengungkap kondisi terkini yang sedang menghangat. Soal bencana kemanusiaan yang diakibatkan kepemilikan senjata api serta kebijakan pemangku kepentingan yang mengalun politis.

Jim Ramer menampilkan citra dari bidang sasaran tembak, dari tempat uji sertifikasi kepemilikan senjata api. Luputnya lubang sisa peluru dari target lingkaran merah tak menutup lonjakan permintaan izin kepemilikan senjat api di AS: Yang menjadikan suasana kota-kota di negara bagian kembali membangkitkan Wild Wild West.

Setumpuk kertas sisa uji tembak itu melahirkan tanya: Siapa mereka ini? Mereka tinggal di mana? Mengapa mereka butuh senjata api?

Pameran “Dystopian Diffraction: Sign Of Warning,” Bandung Photography Triennale, di Bale Tonggoh SSAS, 8 September hingga 8 Oktober 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Patriot Mukmin menunjukkan sudut pandang yang sempat kita akrabi selama 2 tahun krisis pandemi COVID 19: memandang dunia luar dari ruang pribadi kita. Dengan apik, Patriot Mukmin mencetak karyanya hasil jepretan via lensa lenticular dalam karyanya, The Simulation #1 dan #2.

Lanskap visual dengan mudah berubah seturut perpindahan arah pandang, tetapi tidak dengan layar laptop yang tetap terjaga, statis, menyala, mengendalikan situasi di luar ruang, yang tak menentu di saat masa-masa lockdown.

Karya seri Don’t Walk In Front Of Me, I May Not Follow dari perupa asal Singapura, Lavender Chang menunjukkan gambar lanskap yang jelas diambil dari sudut pandang terbatas dan khas. Citra yang tertangkap cenderung kabur.

Lavender Chang ingin mengajak melihat dunia dari perspektif baru. Kehidupan, mirip dengan proses pembuatan citra, menjelajahi kemungkinannya tanpa tujuan yang pasti, mengarah pada kemungkinan penemuan baru.

Oleh karena itu, perubahan pada lingkungan kita terkait erat dengan ingatan kolektif kita tentang masa lalu dan ekspresi harapan kita untuk masa depan.

Shiho Yoshida seperti bergulat dengan residu. Setelah dewasa, ia baru mengetahui jika pantai tempatnya bermain saat kecil merupakan kuburan paus. Yang ia kenang dari tempat itu hanyalah kesenangan saat bermain.

Pasir bergelombang indah di lokasi pemakaman. Riaknya menyerupai kulit ikan paus, dan fakta bahwa tiga meter di bawah tempatnya berdiri ada makhluk yang terkubur menjadi sangat nyata.

Tempat di mana dirinya dibesarkan, yang ia kenal luar dalam, bisa tidak diketahui jika sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya. Tujuan karyanya adalah memperlihatkan aura paus yang tertimbun di bawah pasir itu, dengan cara yang hanya mungkin dilakukan dengan fotografi.

Sabrina Asche, perupa asal Jerman, menampilkan karya yang diambil pada 2018-2022. Ia menghubungkan citra dengan kenyataan khusus mengenai industri tekstil.

Sabrina berangkat dari fatalisme industri garmen di Bangladesh, ketika perempuan menjadi 80 persen dari 4,2 juta pekerja di dalamnya. Perempuan itu merupakan bagian dari bencana runtuhnya pusat garmen Rana Plaza, Bangladesh, pada 2013, yang membawa serta dampak ledakan sosial-politik industri garmen.

Pada 2018, Sabrina menyerahkan kameranya kepada delapan wanita pekerja industri garmen untuk mengabadikan kehidupan sehari-hari mereka. Selama empat minggu, 3.000 gambar dibuat oleh Bobita Akhter, Mahfuja Akter, Mina Begum, Rukaiya Sultana, Shapla Akter, Shipra Gayen, Tania Aktar, dan Tanjila Akter Surma.

Bersama cetakan sederhana dilengkapi dengan catatan, para pekerja perempuan ini menuangkan berbagai pesan. Cetakan berkembang menjadi bahan kerja, dokumen, dan alat komunikasi. Foto-foto dan pesan itu tercetak di berbagai kain yang dipajang di Bale Tonggoh, SSAS, bersama video berdurasi 32 menit bertema “This Is Why I Have Taken The Photo.”

Karya Ctrl, Shift, Enter dari Perupa Korea, Yong Hwan-Lee, mengembalikan kita pada diskusi soal waktu. Ia menyandingkan potret dirinya dengan foto dari seabad lalu. Waktu yang menyejarah; atau tepatnya boleh jadi: “aku yang menyejarah”.

Pada awal abad ke-20, Korea adalah koloni Jepang. Mereka membangun rel kereta api dan pangkalan paralel di Semenanjung Korea untuk menggunakannya sebagai basis penghubung invasi ke benua itu.

Saat itu, Selat Korea-Jepang merupakan jalur pengiriman barang dan tentara, sekaligus tempat di mana para pekerja dan wanita penghibur sering datang dan pergi. Politisi Korea dan Jepang masih menggunakan kemalangan masa lalu mereka untuk tujuan politik, dan rakyat di sana telah tumbuh dalam hubungan politik ini.

Oleh karena itu, sejarah masa lalu mempengaruhi masa kini dan masa depan dirinya.

Pameran “Dystopian Diffraction: Sign Of Warning,” Bandung Photography Triennale, di Bale Tonggoh SSAS, 8 September hingga 8 Oktober 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Heru Hikayat mengungkapkan, masing-masing perupa memperlakukan fotografi dengan cara yang berbeda-beda. Fotografi berarti penggunaan kamera untuk membekukan citra dari “kenyataan,” maka fotografi selalu merupakan masa lalu.

Pembekuan itu tidaklah tanpa masalah. Kamera telah membuat manusia masa kini cenderung melihat segala sesuatu sebagai citra dan latar belakang. Citra menjadi kian penting.

Perkembangan fotografi kini barangkali tidak lagi sekadar penggunaan kamera. Kita jelas membutuhkan kecerdasan dan kepekaan tertentu agar gambar diam tidak sekadar deretan citra yang banal melainkan sesuatu yang bisa digunakan untuk refleksi.

“Para perupa ini sesungguhnya menjelajahi berbagai dimensi sudut pandang juga dimensi waktu dari citra dan peristiwa. Kita semua sesungguhnya selalu dibatasi sudut pandang kita sendiri dalam memandang segala sesuatu, pun ketika berbagai perkembangan teknologi telah diupayakan meluaskan cara pandang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: